04
Oct
18

Joke of the Week: Operasi Plastik

Mungkin saya nggak terlalu manusiawi, sehingga saya tidak terlalu merespon kabar (beberapa hari yang lalu) tentang penganiayaan yang dilakukan oleh entah siapa terhadap Ratna Sarumpaet.

Khusus tentang nama itu, saya tahu dia sering nongol di TV show yang dipandegani wartawan senior Karni Ilyas, tetapi jujur saja, saya tidak pernah menyimak apa yang dia bicarakan/ucapkan dalam tayangan-tayangan show itu.

Mungkin karena dulunya saya mendengar nama itu kaitannya dengan dunia teater, bukan politik. Jadi, secara bawah sadar saya sudah telanjur melabeli kapasitas politiknya nggak seberapa. Bukan karena saya nggak paham hubungan teater dengan politik, tetapi mengangkat politik dalam teater itu sepertinya berbeda jauh dari politik praktis. Setidaknya begitu batasan pengetahuan saya.

Jadi, saya nggak begitu berminat menyimak omongannya dalam TV show itu karena di sana terlihat jelas dia bukan sebagai pengamat yang netral, tetapi karena terlihat jelas dia berada di kubu mana—dengan kata lain, dia berpolitik praktis.

Jadi, waktu belakangan dia mengakui kebohongannya, saya nggak terlalu kecewa—karena itu sudah banyak terjadi dalam praktek politik di negeri ini. Dan saya nggak bersorak juga—karena saya juga bukan cebong.

Justru, saya kasihan kepada capres dari kubunya. Tidakkah perbuatannya (menyebarkan berita bohong seolah-olah dia habis dianiaya) itu sangat memalukan? Saya bahkan nggak yakin kalau Prabowo nggak marah. Kalau saya jadi dia, saya akan tampil di depan publik dan secara terang-terangan gamblang menyatakan memecat si Sarumpaet dari tim atau organisasi apapun yang berkaitan dengan statusnya sebagai capres.

Kalau si capres tidak lakukan itu, apa jadinya image dia? Bukankah selama ini dia dikenal sebagai sosok yang tegas? Bukankah selama ini dia disindir-sindir sebagai sosok pemarah?

Well, entah perspektif apa yang saya pakai. Pepatah Sicilia bilang: sekali kamu maafkan seorang maling, dia akan mencuri lagi di lain hari. Mungkin mereka belum pernah dengar itu.

Advertisements
06
Aug
18

Halal/Haram Imunisasi?

Pekan kemarin negeri ini punya trending topic lama: kontroversi imunisasi MR (Measles Rubella). Kukatakan lama, karena kontroversi itu sudah pernah muncul beberapa tahun lalu, dan tahun ini muncul lagi sesuai musimnya: bulan imunisasi MR nasional, Agustus dan September 2018.

Kontroversinya bukan lagi tentang virus yang dimasukkan ke dalam tubuh, tetapi sudah terang-terangan ke arah SARA. Yup, membawa-bawa hukum agama.

Bukan hal baru kalau hukum agama sering dibawa-bawa dalam bermacam perkara di Indonesia. Well, sekitar 80 persen penduduknya muslim, dan menyandang predikat sebagai negara dengan populasi muslim terbessar di dunia. Apalagi, muslim mengakui bahwa agamanya (Islam) itu mengatur segala aspek kehidupan, termasuk kesehatan, politik, perdagangan, dan semuanya.

Yang menggelikan bagiku adalah gagasan tentang konspirasi global untuk menghancurkan Islam. Tentu saja, yang dituduh sebagai pelakunya adalah Yahudi. Bukan karena konspirasi wahyudi itu fiksi atau apa.

Tapi karena aku berpikir begini: penghancur umat Islam itu bukannya vaksin dengan kandungan bahan-bahan haram, melainkan gagasan dan provokasi untuk mempertanyakan halal/haramnya vaksin. Itu.

Memangnya ZIonis Yahudi begitu bodohnya mau menghancurkan Islam dengan terang-terangan mengirim vaksin haram?

Senjata fisik sudah lama tidak lagi mempan. Iya, kan? Lalu dicoba senjata-senjata jenis lain: ekonomi, tatanan sosial yang baru, tata pergaulan baru, trend berpakaian baru, dan sebagainya.

Termasuk: gagasan-gagasan untuk diperdebatkan. Yang seharusnya tidak ada gunanya diperdebatkan.

30
Nov
17

Ulang Tahun

Jumat esok, 1 Desember 2017 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awal 1439. Pada kalender Hijriyah, tanggal tersebut adalah tanggal lahir Rasulullah Muhammad (shalallahu ‘alaihi wasalam).

Indonesia—yang mayoritas penduduknya beragama Islam—sudah sejak puluhan tahun lalu menjadikan hari kelahiran Nabi Muhammad itu sebagai hari libur nasional alias tanggal merah.

Namanya mayoritas, dan sudah berabad-abad agama Islam berkembang di nusantara, banyak tradisi-tradisi berkaitan dengan hari tersebut. Berkaitan dengan kelahiran seorang calon nabi berabad-abad silam di tanah Arab sana. Dengan kata lain, banyak tradisi di nusantara ini yang lahir, berkembang dan masih terus dilaksanakan oleh masyarakat di berbagai pelosok nusantara. Merayakan hari kelahiran Rasulullah Muhammad (shalallahu ‘alaihi wasalam).

Saya jadi heran: kenapa ada sebagian umat Islam yang mengatakan bahwa memperingati hari ulang tahun itu tidak syar’i?

Ya, mungkin Muhammad sendiri tidak pernah menyuruh para sahabatnya merayakan hari ulang tahunnya. Tidak, dia memang tidak senarsis itu. Mungkin Muhammad juga tidak pernah memberi ucapan selamat ulang tahun kepada satupun istri tercintanya. Mungkin. Saya belum pernah mendengar tentang itu.

Tapi kalau memang merayakan hari ulang tahun itu tidak sesuai dengan ajaran Islam, kenapa ada perayaan maulid Nabi?

Entahlah. Saya hanya bertanya. Toh saya sangat menikmati berbagai tradisi menyambut bulan kelahiran Sang Nabi.

24
Jul
17

Beras Juga Bisa Dipakai untuk …

Sedang ramai kasus beras. Kali ini bukan impor beras. Tetapi dugaan kecurangan sebuah perusahaan produsen beras. Tapi beberapa hal yang disebut sebagai kecurangan itu serasa aneh—bagiku.

Misalnya, perusahaan tersebut dituduh melanggar aturan tentang harga karena mereka membeli gabah di petani dengan harga di atas ketentuan harga pemerintah.

(Memangnya petani nggak boleh sedikit lebih kaya?)

Saya membaca pada berita di media online ternama, pihak kepolisian menganggap itu pelanggaran, karena dengan menerapkan harga beli yang lebih tinggi dari petani, maka para petani jadi lebih suka menjual gabahnya ke perusahaan tersebut, sehingga pelaku usaha di bidang yang sama jadi kesulitan memperoleh gabah. Atas fenomena itu, kepolisian menganggap perusahaan tersebut mematikan pelaku usaha sejenis.

(Jadi, kenapa pabrik semen conch milik china bisa tetap berproduksi? Padahal bangsat itu nyata-nyata melanggar berbagai aturan, dan menerapkan harga jual yang lebih rendah dibanding produk-produk serupa sehingga pelaku usaha yang lain menjadi berkurang penjualannya.)

Belum lagi teori yang mengatakan bahwa produsen beras yang itu diributkan karena dia mengganggu bisnis para penguasa industry (entah di bidang perberasan saja atau berdampak ke industry lain). Jika anda bukan penguasa, bukan kapitalis yang bisa menentukan nasib dunia, jangan coba-coba mengusik kami. Mungkin begitu pesannya.

Ya, kekuatan hitam kapitalis memang bisa menggerakkan polisi, politisi dan siapapun yang memiliki kewenangan untuk berbuat yang tidak masuk akal sekalipun, demi melindungi kepentingan dan kelanggengan keuntungan bagi para kapitalis.

Termasuk menuduh produsen beras yang sedang sial itu sebagai pelaku monopoli. Luar biasa, kan? Kapasitas produksi di bawah 0.2% dari total kebutuhan pasar, dibilang monopoli. Daya serapnya terhadap produksi gabah lokal tempatnya berada saja hanya di kisaran 5%, tapi dibilang monopoli.

Luar biasa, kan … nggak logisnya?

Atau, mungkin kita yang terlambat memperbaharui Kamus Besar Bahasa Indonesia?

12
Jun
17

Aku Suka Mereka: Ahok & Rizieq

Aku sekadar mengungkapkan pendapatku saja—tentang Ahok dan Habib Rizieq. Walau jadi terasa aneh—atau setidaknya berbeda dari orang-orang di sekelilingku.

Kenapa pendukung Ahok tidak suka Habib Rizieq? Dan kenapa pendukung Habib Rizieq tidak suka Ahok?

Jawabannya: mana aku tahu??? Aku bukan termasuk yang tidak suka.

Ya, aku suka keduanya. Bila bisa mendukung, aku mendukung keduanya.

Aku suka dengan apa yang dilakukan Ahok di Jakarta selama ia jadi gubernur. Aku juga tidak percaya ia melecehkan atau menista agama Islam dalam kejadian di Pulau Seribu itu. Tentang tidak percayaku—dan opiniku tentang kejadian itu—sudah kutulis di blog ini juga, postingan 27 Februari 2017.

Aku suka Habib Rizieq dengan pilihan jalur perjuangannya. Bukan memilih jalur amar ma’ruf, ia lebih banyak tampak di jalur nahi munkar. Dia tidak hanya mencegah kemungkaran, tetapi juga sangat aktif memeranginya. Tampaknya, kedok kebebasan maupun demokrasi tidak akan bisa menyembunyikan kemungkaran dari pandangan orang ini.

Tuduhan chat porno?

C’mon! memangnya orang bisa dituntut karena urusan itu? Obrolan porno ada di mana-mana. Jaman sekarang ini setiap orang bisa membuat grup di wasap, facebook dan banyak tempat [maya] lainnya. Belum lagi yang japri.

Saya juga sesekali chat porno dengan orang lain—bahkan dengan orang yang sudah menikah. Apalagi yang dibalut dengan humor. Puluhan kali. Jadi, kenapa tidak satu kalipun polisi mendatangi saya untuk mempermasalahkan itu?

Tapi Habib Rizieq? Chat porno? Memangnya dia segitu kurang kerjaan? Para penuduhnya tuh yang kurang kerjaan, jadi sempat-sempatkan bikin screenshot palsu.

Apakah pasti palsu? Entahlah. Tapi mereka tidak berani membuktikannya, kan?

Ahok, aku tidak melihatmu menghina islam dalam video yang merekammu di Pulau Seribu itu.

Rizieq, aku mendukungmu memerangi kemungkaran. Tapi Ahok tidak menghina Islam. Percaya, deh!

02
Jun
17

Joke of the Week: Plagiarisme

Lelucon pekan ini, menurut saya adalah sinetron tuduhan plagiarisme yang ditujukan kepada Afi, remaja Banyuwangi yang postingan-postingannya di facebook memiliki banyak penggemar—dan memunculkan tidak sedikit orang yang khawatir juga, mungkin.

Jadi, mari kita ambil pelajaran dari kasus tersebut. Untuk berjaga-jaga agar jangan sampai kita tidak dirusuhi kelompok-kelompok tertentu dengan tuduhan plagiarisme, ada baiknya kita berhati-hati memilih diksi (kata) kalau memposting status atau komentar di media sosial berbasis internet.

Misalnya, kalau tak tahu lagi ke mana harus bertanya atau mencari tahu, jangan lagi menulis “Tanyakan pada rumput yang bergoyang.”

Kalau sudah fanatik atau sudah mantap mencintai sesuatu/seseorang, jangan ungkapkan dengan frase “tak bisa ke lain hati”.

Kalau anda tipe suami yang selalu rindu untuk pulang namun sering terpaksa menunda kepulangan karena tuntutan pekerjaan, jangan ungkapkan dengan frase “aku bukan Bang Toyib”.

Daripada dirusuhi dengan tuduhan plagiarisme.

31
May
17

Libur Lagiiiii …

Bulan Mei 2017, orang Indonesia “dihajar habis-habisan” dengan tanggal merah alias hari libur nasional. Ada satu hari libur nasional yang jatuh pada hari Senin, dan dua pada hari Kamis.

Berlanjut, 1 Juni yang jatuh pada hari Kamis juga libur. Tampaknya yang ini masih relatif baru—atau memang baru pada tahun ini 1 Juni yang diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila menjadi libur nasional?

Well, siapa sih yang tidak suka liburannya ditambah? Yang mau mudik pakai moda transportasi terbang pun tetap suka, karena bertambah waktu liburnya, walaupun harga tiket pesawatnya juga jadi naik lumayan signifikan. (Ya, tiket pesawat sepanjang pekan plus akhir pekan sebelum dan sesudahnya biasa naik signifikan kalau dalam pekan tersebut—rentang Senin sampai Jumat—ada tanggal merah.)

Tapi sebenarnya saya hanya ingin berkomentar satu hal saja tentang Hari Lahir Pancasila yang kini ditetapkan sebagai hari libur nasional. Ini komentar saya: Pancasila sekarang sudah seperti Yesus dan Muhammad, ya. Hari lahirnya jadi libur nasional. Hehe …




menulis itu harus.
mengupil itu pilihan.

hmmm....

recent posts

tentang …….

saldo

December 2018
M T W T F S S
« Oct    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

senangnyaaa, blog ini pernah dikunjungi

  • 9,920 kali ^_^

yg punya wordpress akan senang ngasih tau via email jika Anda ngasih alamat email di sini, trus klik tombol jelek di bawah itu ^_^

blog-blog berikut juga seruuu …

Advertisements

BILIK SUNYI RANDU ALAMSYAH

After years of waiting, nothing came...

ANTI-TANK

ART IS POWER!

Ninok Eyiz's Journey

Just think and want to share..menulis itu memang untuk kesehatan jiwa..[ku]

Islam di Atas Mazhab

Mengenal Lalu Bersatu

pelukissenja

Just another WordPress.com site

Edo Rusyanto's Traffic

Edo Rusyanto's Traffic

hari-hari tiap hari

corat-coret seorang PNS yang sedang membiasakan diri menulis [sambil mengupil] ^_^

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.