19
Jan
16

Baju Putih Itu Sederhana* … (*Sederhana Itu Relatif)

Seperti terlihat di televisi dan pada foto-foto di media, presiden kita saat ini ke mana-mana sering mengenakan baju putih saja sehari-harinya. Baju batik atau setelan jas hanya beliau pakai pada acara-acara tertentu. Mungkin acara khusus yang memang formal sifatnya.

Tadinya saya bertanya, kenapa kemeja putih? Baiklah, itu menunjukkan kesederhanaan. Tidak macam-macam, walau tidak semua kemeja putih itu sederhana. Ada yang harganya hanya puluhan ribu rupiah sepotong, ada juga yang melebihi UMR. Yang jelas, kesederhanaan baju putih presiden itu semakin tergambar pada cara pakainya: tak usah repot-repot memasukkan ujung bawahnya ke dalam celana, sehingga tidak perlu pula pamer ikat pinggang mahal. Dan jujur saja, kesan sederhana itu semakin kuat karena dukungan postur sang presiden yang kurus kerempeng, bukan postur kuli perut.

Kesederhanaan itu kemudian disebarluaskan. Bukan kesannya, tetapi semangatnya. (Well, maksud saya, terlepas dari ada/tidaknya, saya sedang tidak ingin membahas tentang penyebarluasan kesan kesederhanaan alias pencitraan itu)

Eh, maaf, benar kan semangat kesederhanaan itu yang disebarluaskan? Pada acara pelantikan kabinet, para menteri tidak perlu mengenakan setelah jas. Supaya lebih terlihat semangat kesederhanaannya, dress code bagi para menteri saat itu adalah pakaian atas putih dan bawah hitam. Sederhana. Tidak perlu setelan jas yang pastinya lebih mahal harganya. Bahkan, biaya laundry satu setel jas mungkin cukup untuk membeli sepotong kemeja putih lengan panjang, kan?

Di hari-hari kemudian, beberapa menteri menerapkan gaya berpakaian itu dalam banyak kesempatan. Selain melihat di layar kaca dan pada foto-foto di media massa online maupun cetak, saya sendiri pernah mengikuti sebuah acara yang dihadiri oleh salah seorang menteri; ia mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang ujungnya menutupi ikat pinggang—kalau memang ia mengenakan ikat pinggang, sih.

Di hari-hari kemudiannya lagi, kemeja putih dijadikan sebagai salah satu pakaian kerja rutin pegawai negeri sipil (PNS); terserah anda menyebutnya aparatur sipil negara atau apa, saya akan menyebutnya PNS saja supaya lebih singkat.

Saya pribadi masih bisa menerima pesan kesederhanaan kemeja putih itu ketika dipakai oleh presiden dan para menteri. Tapi tidak pada PNS. Mengapa? Karena presiden, wakilnya dan para menteri tidak punya seragam kerja. Presiden, wakilnya dan para menteri tidak harus mengenakan baju hijau linmas pada hari Senin, tidak harus berbaju apa pada hari Selasa, tidak harus pakai baju entah di hari Rabu. Mereka bisa mengenakan kemeja putih kapan saja di luar acara-acara formal tertentu. Presiden juga bisa bilang, “Pelantikan kabinet nanti pakai kemeja putih saja.” Atau, “Nanti kita rapat nggak usah pakai jas, tapi batik saja.” Untuk kunjungan kerja, blusukan, menghadiri seminar, meresmikan jembatan, mendahului petani memanen padi dan sejenis-sejenis itu kostumnya cukup kemeja putih dan busana bawahnya berwarna gelap. Memang sederhana, karena semakin banyaknya kegiatan mereka tidak membuat pakaian mereka semakin beragam; semakin banyak aktivitas mereka dengan dress code cukup kemeja putih.

Sedangkan PNS sudah punya seragam kerja sehari-hari. Terutama PNS daerah yang sejak dulu kala dalam seminggu minimal memiliki dua macam baju kerja, yaitu setelah warna khaki-kekuningan dan batik. Sebagian daerah juga masih setia memberlakukan seragam hijau linmas pada hari Senin. Beberapa daerah—dan beberapa instansi—bahkan memiliki seragam kerja selain yang tiga itu. Misalnya, busana khas daerah untuk hari tertentu—seperti pakaian Betawi yang dipakai Ahok setiap Rabu.

(Khusus untuk penggunaan batik atau busana khas daerah sebagai seragam/pakaian kerja, saya tidak ingin mempertanyakan karena saya mendukung penggunaan, pelestarian dan membanggakan busana khas daerah sebagai implementasi kecintaan terhadap kekayaan budaya nusantara. Kalau tidak “dipaksa” begitu, mungkin para PNS itu lebih suka membeli kemeja baju selain batik—dan itu kurang baik untuk ekonomi kerakyatan berbasis batik, kelestarian budaya nusantara, dan kecintaan terhadap budaya bangsa sendiri.)

Walaupun sederhana itu relatif, tetapi apakah kemeja putih itu lebih sederhana dibanding setelan pakaian linmas atau pakaian dinas harian warna khaki-kekuningan itu? Baiklah, anggap saja lebih sederhana karena cara memakainya tidak perlu memasukkan ujung bawahnya ke dalam pinggang celana—sehingga tidak mengharuskan kehadiran ikat pinggang.

Dalam hal penggunaan kemeja putih sebagai pakaian kerja, yang sangat berbeda pada presiden, wakilnya dan para menteri di satu sisi dan para PNS di sisi lain adalah jumlah jenis pakaian kerja yang dipakai secara rutin. Pada presiden, kemeja putih mengurangi ragam pakaian dinas sehari-harinya. Sedangkan pada PNS (terutama kebanyakan PNS daerah), penerapan kemeja putih sebagai pakaian kerja justru menambah jenis baju kerja yang harus mereka pakai setiap pekan.

Yang saya tidak mengerti adalah, apakah penambahan jenis baju wajib itu bisa dikatakan sebagai penyederhanaan, atau kesederhanaan, atau menunjukkan sikap hidup sederhana?

Bagi saya pribadi, yang otaknya dangkal ini, kesederhanaan itu tampak pada sedikitnya jumlah keragaman. Semakin tidak beragam, semakin sederhana. Semakin sedikit jenis baju kerja, semakin sederhana. Seperti Mark Zuckerberg yang tiap hari bajunya sama jenis, model dan warnanya. Itu sederhana. Dan itu sama sekali tidak mengurangi kinerjanya dalam mengelola perusahaan. *****

Advertisements

0 Responses to “Baju Putih Itu Sederhana* … (*Sederhana Itu Relatif)”



  1. Leave a Comment

bebas komen di sini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


menulis itu harus.
mengupil itu pilihan.

hmmm....

tentang …….

saldo

January 2016
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

senangnyaaa, blog ini pernah dikunjungi

  • 8,286 kali ^_^

yg punya wordpress akan senang ngasih tau via email jika Anda ngasih alamat email di sini, trus klik tombol jelek di bawah itu ^_^

blog-blog berikut juga seruuu …


BILIK SUNYI RANDU ALAMSYAH

After years of waiting, nothing came...

ANTI-TANK

ART IS POWER!

Ninok Eyiz's Journey

Just think and want to share..menulis itu memang untuk kesehatan jiwa..[ku]

Islam di Atas Mazhab

Mengenal Lalu Bersatu

pelukissenja

Just another WordPress.com site

PADAMARGA!

in sanskrit padamarga means the little path...

Edo Rusyanto's Traffic

Edo Rusyanto's Traffic

hari-hari tiap hari

corat-coret seorang PNS yang sedang membiasakan diri menulis [sambil mengupil] ^_^

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: