26
May
16

Kenapa Kebiri?

Pagi tadi membaca berita, presiden menyetujui hukuman kebiri bagi pelaku pemerkosaan (atau kejahatan seksual) terhadap anak-anak. Well, itu sedikit melegakan. Sedikit, karena sikap presiden memang sudah ditunggu-tunggu—setidaknya oleh para netizen yang ‘suaranya’ bisa dirunut di berbagai situs berita (dalam berita maupun di kolom komentar) dan media sosial.

Yup, suara-suara yang menghendaki hukuman kebiri—dan hukuman mati—bagi para pelaku kejahatan seksual memuncak sejak kasus Yuyun, bocah awal remaja yang diperlakukan secara kejam oleh belasan remaja lain berumur sedikit di atasnya. Suara-suara menuntut itu menanjak naik seiring terungkapnya beberapa kasus kejahatan seksual yang korbannya adalah anak-anak di bawah umur. Dan memuncak pada kasus kejahatan seksual brutal-supersadis yang menimpa seorang perempuan muda (berusia 19 tahun) bernama Eno.

Saya sendiri tak terlalu mengikuti berita-berita itu. Terutama yang dua namanya kusebut itu. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak sampai hati saya membacanya. Apalagi melihat foto. Duhh ….. tadinya kukira perlakuan seperti itu hanya ada di era bodoh abad pertengahan di Eropa sana.

(Sengaja saya menggunakan kedua nama itu sebagai tag dalam tulisan ini–dan mungkin untuk tulisan-tulisan berikutnya–agar menjadi pengingat bagi saya. SYukur-syukur bagi kita semua. Pengingat tentang betapa kita harus membenahi moral generasi belia kita. Pengingat tentang betapa buruknya kita mendidik anak-anak kita.)

Kembali ke persetujuan presiden pada hukuman kebiri. Saya pribadi memiliki kekhawatiran tentang hukuman itu. Saya khawatir narapidana yang dikebiri tidak akan membuatnya insyaf dan berhenti berbuat kejahatan. Bukan karena saya meragukan efek jera dari pengebirian itu. tetapi, kekhawatiran saya itu lebih berdasar pada budaya berpikir negatif yang masih massif di negeri ini.

Yang saya maksudkan, orang masih mudah berprasangka buruk. Bahkan orang semakin cepat mengambil kesimpulan (entah sadar entah enggak) hanya dari membaca judul berita—tanpa membaca isinya. Orang masih menganggap hukuman sebagai bentuk kebencian terhadap dirinya, bukan sebagai ganjaran atas apa yang telah diperbuat. Contohnya sangat gampang kita lihat. Seorang siswa yang tidak memperhatikan guru, atau mengganggu sesamanya di kelas, atau berbuat sesuatu yang tidak dibenarkan oleh guru, lalu guru memberikan hukuman fisik. Si murid lapor orangtua, orangtua lapor polisi, guru masuk bui. Murid dihukum bukannya sadar dia salah, tetapi justru membawa banyak pihak untuk sama-sama menyalahkan guru.

Itulah kekhawatiran saya mengenai pemberlakuan hukuman kebiri. Jangan-jangan terpidana kebiri itu malah dendam, lalu melampiaskan nafsu kejahatannya dengan melakukan kejahatan-kejahatan lain—atau bahkan melakukan kejahatan seksual dengan alat selain alat kelaminnya.

Saya memang bukan pemikir yang mendalam. Saya juga sering mencari praktisnya saja. Itu pula yang membuat saya lebih setuju hukuman mati sesegera mungkin untuk para pelaku kejahatan seksual, terutama yang mengambil korban anak-anak, atau yang melakukannya dengan keji/sadis.

Saya yakin, penjahat seksual tidak kita perlukan dalam hidup ini. Saya yakin, dunia juga akan lebih aman bila jenis kejahatan atau jumlah penjahatnya berkurang—walau hanya satu item dan satu orang sekalipun. Saya juga meyakini kebenaran salah satu pepatah yang diajarkan kepada saya pada masa kecil dulu, yaitu “lebih baik mencegah daripada mengobati.” Mencegah balas dendam dari para penjahat lebih baik daripada memberinya kesempatan untuk melakukan itu. Mencegahnya dengan cara paling efektif: membunuhnya dengan modus hukuman mati.

Apakah harus mati? Apakah dia tidak berhak memiliki masa depan?

Entahlah. Tetapi anak di bawah umur yang mengalami trauma psikis, apakah dia punya masa depan? Apakah masa depannya tidak terus terhantui oleh sosok yang telah merenggut keceriaannya? Apakah setiap individu dalam masyarakat kita bisa menahan untuk tidak melakukan apapun yang membuat korban malu—sekarang atau seumur hidup si korban?

Bicara mengenai kesempatan, kadang kala kita mendengar ucapan orang bijak bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Hah .. di negeri yang budaya berpikir negatifnya masih massif ini, menjadi insaf melalui kesempatan kedua adalah sebuah keajaiban. Bukannya tidak ada, tetapi kita menjumpainya lebih banyak di tayangan-tayangan tidak bermutu di televisi kita.

Setidaknya, si terpidana tidak dieksekusi mati pada detik vonis dijatuhkan. Masih ada beberapa jam untuk dia bertobat.

Ya, beberapa jam. Karena sebaiknya kita tidak membuang-buang uang rakyat (kas negara) untuk memberi makan para penjahat seksual itu di penjara. Begitu, menurut saya.

Oh ya, saya pernah mendengar sebuah pepatah dari Sicilia (iya, yang di Italia itu), berbunyi: “Sekali kamu memaafkan seorang maling, lain hari dia akan mencuri lagi.” *****

Advertisements

0 Responses to “Kenapa Kebiri?”



  1. Leave a Comment

bebas komen di sini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


menulis itu harus.
mengupil itu pilihan.

hmmm....

tentang …….

saldo

May 2016
M T W T F S S
« Feb   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

senangnyaaa, blog ini pernah dikunjungi

  • 8,402 kali ^_^

yg punya wordpress akan senang ngasih tau via email jika Anda ngasih alamat email di sini, trus klik tombol jelek di bawah itu ^_^

blog-blog berikut juga seruuu …


BILIK SUNYI RANDU ALAMSYAH

After years of waiting, nothing came...

ANTI-TANK

ART IS POWER!

Ninok Eyiz's Journey

Just think and want to share..menulis itu memang untuk kesehatan jiwa..[ku]

Islam di Atas Mazhab

Mengenal Lalu Bersatu

pelukissenja

Just another WordPress.com site

PADAMARGA!

in sanskrit padamarga means the little path...

Edo Rusyanto's Traffic

Edo Rusyanto's Traffic

hari-hari tiap hari

corat-coret seorang PNS yang sedang membiasakan diri menulis [sambil mengupil] ^_^

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: