Archive for the 'menanggapi berita' Category

24
Jul
17

Beras Juga Bisa Dipakai untuk …

Sedang ramai kasus beras. Kali ini bukan impor beras. Tetapi dugaan kecurangan sebuah perusahaan produsen beras. Tapi beberapa hal yang disebut sebagai kecurangan itu serasa aneh—bagiku.

Misalnya, perusahaan tersebut dituduh melanggar aturan tentang harga karena mereka membeli gabah di petani dengan harga di atas ketentuan harga pemerintah.

(Memangnya petani nggak boleh sedikit lebih kaya?)

Saya membaca pada berita di media online ternama, pihak kepolisian menganggap itu pelanggaran, karena dengan menerapkan harga beli yang lebih tinggi dari petani, maka para petani jadi lebih suka menjual gabahnya ke perusahaan tersebut, sehingga pelaku usaha di bidang yang sama jadi kesulitan memperoleh gabah. Atas fenomena itu, kepolisian menganggap perusahaan tersebut mematikan pelaku usaha sejenis.

(Jadi, kenapa pabrik semen conch milik china bisa tetap berproduksi? Padahal bangsat itu nyata-nyata melanggar berbagai aturan, dan menerapkan harga jual yang lebih rendah dibanding produk-produk serupa sehingga pelaku usaha yang lain menjadi berkurang penjualannya.)

Belum lagi teori yang mengatakan bahwa produsen beras yang itu diributkan karena dia mengganggu bisnis para penguasa industry (entah di bidang perberasan saja atau berdampak ke industry lain). Jika anda bukan penguasa, bukan kapitalis yang bisa menentukan nasib dunia, jangan coba-coba mengusik kami. Mungkin begitu pesannya.

Ya, kekuatan hitam kapitalis memang bisa menggerakkan polisi, politisi dan siapapun yang memiliki kewenangan untuk berbuat yang tidak masuk akal sekalipun, demi melindungi kepentingan dan kelanggengan keuntungan bagi para kapitalis.

Termasuk menuduh produsen beras yang sedang sial itu sebagai pelaku monopoli. Luar biasa, kan? Kapasitas produksi di bawah 0.2% dari total kebutuhan pasar, dibilang monopoli. Daya serapnya terhadap produksi gabah lokal tempatnya berada saja hanya di kisaran 5%, tapi dibilang monopoli.

Luar biasa, kan … nggak logisnya?

Atau, mungkin kita yang terlambat memperbaharui Kamus Besar Bahasa Indonesia?

02
Jun
17

Joke of the Week: Plagiarisme

Lelucon pekan ini, menurut saya adalah sinetron tuduhan plagiarisme yang ditujukan kepada Afi, remaja Banyuwangi yang postingan-postingannya di facebook memiliki banyak penggemar—dan memunculkan tidak sedikit orang yang khawatir juga, mungkin.

Jadi, mari kita ambil pelajaran dari kasus tersebut. Untuk berjaga-jaga agar jangan sampai kita tidak dirusuhi kelompok-kelompok tertentu dengan tuduhan plagiarisme, ada baiknya kita berhati-hati memilih diksi (kata) kalau memposting status atau komentar di media sosial berbasis internet.

Misalnya, kalau tak tahu lagi ke mana harus bertanya atau mencari tahu, jangan lagi menulis “Tanyakan pada rumput yang bergoyang.”

Kalau sudah fanatik atau sudah mantap mencintai sesuatu/seseorang, jangan ungkapkan dengan frase “tak bisa ke lain hati”.

Kalau anda tipe suami yang selalu rindu untuk pulang namun sering terpaksa menunda kepulangan karena tuntutan pekerjaan, jangan ungkapkan dengan frase “aku bukan Bang Toyib”.

Daripada dirusuhi dengan tuduhan plagiarisme.

23
Dec
16

Invasi china Bukan Dongeng Sebelum Tidur

Beberapa bulan lalu, para pendukung Jokowi masih tertawa-tawa meledek kubu sebelah ketika beredar gosip tentang serbuan tenaga kerja china ke Indonesia. Ketika gosip itu mengatakan ada 10 juta orang china datang ke Indonesia untuk bekerja, bahkan seorang selebritas (vokalis band) pun bersedia menjadi juru bicara bantahan itu melalui sebuah video yang banyak dibagikan di media sosial maya.

Mereka bahkan menampilkan data jumlah TKI di luar negeri, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari angka 10 juta itu. Yang saya tidak tahu, apakah angka jumlah TKI itu yang legal saja atau termasuk yang illegal juga, dan apakah warga negara china bekerja di negara ini legal atau sebagian besarnya illegal.

Tetapi dua hari terakhir, berturut-turut, dalam sebuah program berita di TV aku melihat tayangan tentang telah banyak masuknya tenaga kerja illegal china. Bukan TV yang bebas kepentingan, memang, karena TV itu adalah bagian dari kelompok perusahaan milik si Anu yang notabene juga berpolitik praktis.

Dalam siaran program berita tersebut dikatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir orang asing terbanyak yang masuk ke negara kita adalah orang dari china. Well, mungkin itu wajar karena china memang populasi besar, sebuah negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. (Entah itu yang republik rakyat china saja atau juga mencakup republik china, hongkong dan macau)

Yang tidak wajar adalah perkembangannya. Disebutkan, pada tahun 2014 jumlah orang dari china yang masuk ke Indonesia adalah 14 ribu sekian. Jumlah itu bertambah menjadi 16 ribu sekian pada 2015. Dan pada 2016 angka itu bertransformasi menjadi 1 JUTA lebih. Saya sendiri memahami angka-angka itu hanya sebagai jumlah yang diketahui saja.

Tetapi bukan hanya di saluran TV yang itu, saya juga pernah melihat berita bertopik sama di situs berita online ternama—satu dari tiga media online paling kredibel di negeri ini.

Baiklah, berikut saya sebutkan beberapa kasus yang saya lihat dan baca tersebut:

  • penangkapan terhadap 76 warga negara china yang bekerja tanpa dokumen apapun pada pembangunan pabrik semen berinisial C di wilayah Banten; mereka adalah pekerja konstruksi alias buruh kasar; penangkapan oleh Polda Banten
  • penangkapan terhadap sejumlah (saya lupa berapa) tenaga kerja kasar berkewarganegaraan china tanpa dokumen yang sah dalam proyek pembangunan PLTU di wilayah Riau
  • penangkapan terhadap sejumlah (saya lupa berapa) tenaga kerja berkewarganegaraan china tanpa dokumen yang sah dalam proyek pekerjaan di Jeneponto
  • penangkapan terhadap 6 orang warga negara china tanpa dokumen yang sah; mereka membudidayakan cabai di daerah Bogor

Masih dengan topik orang china illegal, kita juga melihat video inspeksi mendadak Menteri Tenaga Kerja ke sebuah perusahaan di daerah Kalimantan Selatan yang mendapati sejumlah tenaga kerja tanpa dokumen yang sah, tak bisa berbahasa Indonesia, dan berbelit-belit menjawab pertanyaan—dengan bantuan penerjemah.

Bahkan, dari Kalimantan Selatan juga ada berita yang tak kalah heboh tentang sebuah pabrik semen (berinisial C juga, mungkin sama dengan yang sedang dibangun di Banten) milik china. Yaitu, bahwa tentara dan petugas dinas tenaga kerja pun tidak diijinkan masuk ke komplek pabrik. Di negeri ini, siapa yang melarang tentara masuk? Tetapi, pabrik mana yang boleh menolak pendataan tenaga kerjanya oleh dinas tenaga kerja??

Dan anda pasti pernah mendengar berita tentang berkibarnya bendera china di wilayah Maluku beberapa waktu lalu.

Dan pemerintah masih santai-santai tentang hal ini?

Saya bukan pemerhati sejarah, tetapi aneksasi china atas Tibet tidak diawali dengan invasi militer. Wilayah Palestina direbut zionis juga bukan dengan invasi militan bersenjata sebagai langkah awalnya. Keduanya diawali dengan penyusupan orang-orang yang berkedok turis, pebisnis, tenaga kerja dan “profesi-profesi wajar” lainnya.

***

PS. Saya tidak benci etnis tionghoa; banyak saudara dan sahabat kita dari etnis tersebut. Saya tidak suka warga negara china masuk secara tidak sah ke negeri kita. Saya tidak suka warga negara china bekerja secara tidak sah di negeri kita. Saya tidak mau politik china masuk ke Indonesia.

10
Dec
16

Sari Oh Sari

Saya merasa beruntung sempat membaca beberapa postingan orang terkait klarifikasi produsen roti tentang ketidakterkaitan pihaknya dengan aksi 212.

Sebatas yang saya tahu dari membaca beberapa postingan, klarifikasi itu justru bermula dari pujian yang ditujukan kepada produsen roti tersebut. Pujian yang diberikan oleh para netizen karena sebuah foto yang menampakkan tulisan “gratis untuk mujahid” (atau apa tepatnya?) tertempel di gerobak beratribut/ber-livery perusahaan mereka. Bukannya menerima saja, pihak perusahaan roti justru mengklarifikasi, memberitahukan kepada publik perihal yang sebenarnya, bahwa yang berbaik hati memberi gratisan kepada para partisipan aksi 212 itu bukanlah perusahaan, melainkan konsumennya–setelah melakukan aksi borong roti terlebih dulu, tentunya.

Entah bagaimana terlihatnya jika dilihat dari sudut pandang (atau dengan persepsi) si A, si S, si D atau si Apapun. Setiap kepala punya persepsi masing-masing. Setiap pasang mata (bahkan mata yang tak memilki pasangan pun) memilik sudut pandang sendiri-sendiri. Saya juga.

Dan klarifikasi perusahaan roti itu, bukankah itu sebuah kejujuran? Mereka dengan jujur mengakui bahwa mereka tidak sebaik hati prasangka orang-orang yang di awal-awal menanggapi foto yang menampakkan tulisan “gratis untuk mujahid” (atau apa tepatnya?) tertempel di gerobak beratribut/ber-livery perusahaan mereka. Mereka tidak hendak mengambil muka atas pujian. Sebaliknya, perusahaan roti itu menyalurkan pujian itu kepada pihak yang lebih pantas menerimanya (karena memang berbuat nyata memberi roti gratis kepada para partisipan aksi 212), yang insya Allah adalah pendukung berat aksi massal tersebut.

Kemudian, sebuah pikiran negatif menerjemahkan klarifikasi (dan kejujuran) itu dengan sangkaan-sangkaan buruk. Terjemahan dengan sangkaan-sangkaan buruk itu–as always–jauuuuh lebih mudah dan jauuuuuh lebih cepat menyebar di dunia maya, meracuni pikiran para netizen. Lalu … tersebarlah ajakan, berita dan sialnya kejadian sungguhan juga boikot-boikotan itu.

Capek deh ….

30
Nov
16

Ternyata Sehebat Itu?

Dalam seminggu ini ada tiga apel besar digelar di sekitar kantor saya. Apel yang menghadirkan berbagai unsur, mulai dari militer, kepolisian, organisasi kemasyarakatan, forum kerukunan umat beragama, pemuda, pelajar dan entah apa lagi.

Ketiga apel itu dipandegani oleh pihak yang itu-itu juga: kepolisian dan militer. Setahu saya, ada juga yang “membajak” nama forum koordinasi pimpinan daerah untuk menggelar salah satu apel tersebut, tetapi tetap saja inisiatifnya dari pihak bersenjata.

Ketiga apel itu memiliki tema yang mirip-mirip, yaitu tidak jauh-jauh dari persatuan dan kesatuan, NKRI, bhinneka tunggal ika, dan entah frase-frase senada itu apa lagi yang dipakai.

Apel-apel itu bukan kegiatan rutin. Karena yang rutin di hari-hari terdekat adalah peringatan Hari Pahlawan (10 November), peringatan Hari Guru (25 November), hari KORPRI (29 November) dan Bulan Menanam Nasional (Desember). Dari 4 momen ini, yang paling terasa dekatnya dengan tema-tema apel itu adalah yang pertama. Tapi terasa jauh juga karena apel-apel itu terkesan diadakan secara mendadak—setidaknya seminggu—setelah peringatan Hari Pahlawan.

Sempat terdengar olehku selentingan tentang latar belakang munculnya inisiatif untuk apel-apel itu. Tidak lain adalah rencana aksi 2 Desember (212) di Jakarta—yang merupakan sekuel kedua dari aksi 4 November (411) lalu.

Aksi 411 terbukti mampu mengumpulkan ratusan ribu massa. Dan perkiraan semula dari banyak pihak mengenai aksi 212 ternyata meleset: banyak yang semula mengira aksi 212 tidak akan sehebat aksi 411—dalam hal jumlah peserta (massa).

Salah satu faktor yang membuat perkiraan itu jungkir-balik adalah fenomena Ciamis. Yup, sejumlah relatif besar orang yang berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta untuk berpartisipasi dalam aksi 212. Yang semula diberitakan oleh media besar bahwa jumlahnya hanya puluhan orang, lalu segera terkonfirmasi oleh informasi yang gencar dan pesat beredar di media-media sosial di dunia maya.

Belum lagi, dalam banyak informasi yang beredar di media sosial, para pejalan kaki dari Ciamis itu banyak mendapat dukungan di sepanjang jalan. Salah satu bukti visualnya adalah makanan dan minuman yang disediakan oleh para warga di sepanjang rute mereka. Tidak susah melihat dan meyakini apakah penyediaan makanan dan minuman oleh warga itu sebagai bentuk dukungan atau bentuk “suap agar mereka tidak berbuat anarkis”.

Pihak berwenang semula memang tidak mengijinkan penggunaan angkutan umum untuk membawa para calon peserta aksi 212 menuju Jakarta. Belakangan mereka melunak. Mereka mengijinkan hal tersebut. Mungkin mereka akan terlihat lucu jika tetap tidak mengijinkan lalu media sosial dipenuhi gambar, video dan cerita tentang perjalanan pulang orang-orang dari Jakarta ke Ciamis.

Nah, kembali ke apel-apel tadi. Kalau memang itu ditujukan untuk menjaga situasi agar rencana aksi 212 tidak menimbulkan banyak masalah (entah masalah persatuan, kesatuan ataupun dukungan terhadap pemerintah), maka saya hanya semakin terpancing untuk mengambil kesimpulan begini: betapa hebatnya pencetus aksi 411 dan aksi 212 itu. Siapa dia? Habib Rizieq? Pemimpin FPI yang banyak dihujat itu? Jadi sebegitu hebatkan dia sehingga pihak berwenang merasa perlu menggalang dukungan di seluruh daerah?

Entahlah. Saya mau cuci baju dulu.

23
Nov
16

Rohingya … Apapun Alasannya

Beberapa pekan terakhir media sosial—dan media-media “pinggiran” a.k.a non-mainstream—tengah gencar-gencarnya meneriakkan solidaritas mereka terhadap orang-orang Rohingya. Ya, berita mengenai kekejaman pihak pemegang otoritas, rezim atau apapun sebutannya terhadap orang-orang sipil yang oleh banyak media disebut sebagai Rohingya.

Secara sepintas, teriakan yang paling banyak adalah teriakan kepada bisunya media-media internasional—dan media-media mainstream—atas kekejaman yang diterapkan kepada kaum muslim Rohingya.

Teriakan-teriakan yang mempertanyakan tentang ketidak-adilan media-media internasional yang menutup mata dari kekerasan-kekerasan yang dialami oleh orang-orang muslim di Serbia, Palestina, Yaman, Mesir, Siria, Iraq, … dan tentu saja Rohingya.

Lalu, beberapa postingan mulai muncul, mencoba memberi kita pemahaman yang lebih luas mengenai latar belakang konflik dan kekerasan di Myanmar itu. Bahwa Rohingya itu bukan suku, bahwa Rohingya itu nama daerah alias nama geografis, dan sebenarnya tidak otomatis berkaitan dengan agama.

Bahwa Rohingya itu keturunan Bengal (Bangladesh) (mungkin ada campuran dengan darah Myanmar) sehingga tidak diakui sebagai suku maupun warga negara oleh Myanmar. Ketatnya Myanmar dalam memberi status dan hak kewarganegaraan tecermin dalam undang-undang kewarganegaraan yang diberlakukan sejak 1982, merevisi undang-undang serupa yang sebelumnya.

Bahwa nama Rohingya sendiri menjadi seperti pisau yang melukai masyarakat di daerah tertentu di wilayah Myanmar.

Bahwa keturunan Bengal itu sebagian besarnya memeluk agama Islam dan [mungkin memiliki etos kerja yang lebih baik sehingga] umumnya berhasil meraih penghidupan atau tingkat ekonomi yang lebih baik dibanding etnis asli.

Bahwa kekerasan yang terjadi itu bukan atas warga muslim, melainkan kepada orang-orang sipil keturunan Bengal yang bermukim di wilayah Myanmar dan menyebut diri sebagai Rohingya.

Bahkan, ada juga berita tentang Aung Sang Suukyi (yup, maksudku perempuan Myanmar yang pernah menerima Nobel Perdamaian, yang juga anak Jendral Suukyi yang pernah berkuasa di negeri itu beberapa dekade yang lalu) dengan statement bahwa situasi ekstrim sedang terjadi di seluruh wilayah Myanmar dan bukan hanya di Rohingya.

Saya sendiri tidak bisa mencari sumber yang otentik, kredibel dan tidak berpihak/berkepentingan. Tapi saya tahu satu hal: tidak peduli berlatar belakang agama, ras, suku/etnis, politik, atau apapun namanya, kekerasan tidak seharusnya dibiarkan terjadi.

Hak Asasi Manusia berlaku untuk untuk seluruh dan setiap manusia, tak peduli apapun agama, suku, bahasa, keyakinan politik, warga negara ataupun hobinya.

Tidak pula dengan alasan itu urusan domestik negara tersebut.

06
Oct
16

Timbul dan Tenggelam, Siapa yang Ambil Untung?

Negeri kita benar-benar kaya akan keragaman. Benar-benar bhinneka. Salah satu buktinya, tokoh-tokoh baru bermunculan tak henti-henti di negeri kita. Berganti-ganti. Ada yang panjang umur—alias berlama-lama memenuhi obrolan kita di media sosial—tapi ada pula yang langsung melejit lalu menghilang.

Beberapa tahun lalu ada si Udin Sedunia dan Norman Kamaru yang berjoget India. Awal tahun ini muncul Jessica (yang masih panjang umur hingga hari ini—mungkin karena dipaksakan bermanfaat untuk mengalihkan isu-isu tertentu). Beberapa pekan lalu ada si Mukidi. Anies Baswedan pun sempat menjadi tokoh beginian, bahkan dua kali: saat Jokowi mencopotnya dari posisi Menteri Pendidikan, kemudian lagi saat ia menjadi bagian dari pasangan kandidat pemimpin Jakarta yang didorong oleh Prabowo. Dan hari ini yang masih on fire adalah Dimas Kanjeng.

Setiap nama beserta kasus—dan perhatian publik kepadanya—bukan hanya komoditas untuk menarik iklan, tetapi juga sangat tersedia untuk dijadikan pengalih perhatian. Karena sejengkel-jengkelnya publik kita, mereka tetap saja menyalakan TV, memberi komentar terhadap link yang dibagikan di media sosial (walau tanpa meng-klik link tersebut—apalagi membaca isinya).

Singkatnya, media selalu bisa memaksakan tayangan berita tak penting, merebut kue iklan, agar para karyawannya tetap terjamin penghasilannya. Di sisi lain, para pemilik media tetap menuai pundi-pundi sambil mengendalikan agenda publik—untuk kepentingan politiknya, tentu saja.

Ah .. ini pasti tulisan keluh-kesah saja. Tidak direncanakan, tapi nekat posting karena sudah lama tidak menulis apa-apa di sini. Maaf …

 




menulis itu harus.
mengupil itu pilihan.

hmmm....

tentang …….

saldo

August 2017
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

senangnyaaa, blog ini pernah dikunjungi

  • 8,227 kali ^_^

yg punya wordpress akan senang ngasih tau via email jika Anda ngasih alamat email di sini, trus klik tombol jelek di bawah itu ^_^

blog-blog berikut juga seruuu …


BILIK SUNYI RANDU ALAMSYAH

After years of waiting, nothing came...

ANTI-TANK

ART IS POWER!

Ninok Eyiz's Journey

Just think and want to share..menulis itu memang untuk kesehatan jiwa..[ku]

Islam di Atas Mazhab

Mengenal Lalu Bersatu

pelukissenja

Just another WordPress.com site

PADAMARGA!

in sanskrit padamarga means the little path...

Edo Rusyanto's Traffic

Edo Rusyanto's Traffic

hari-hari tiap hari

corat-coret seorang PNS yang sedang membiasakan diri menulis [sambil mengupil] ^_^

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.