Archive for the 'ogah repot' Category

12
Jun
17

Aku Suka Mereka: Ahok & Rizieq

Aku sekadar mengungkapkan pendapatku saja—tentang Ahok dan Habib Rizieq. Walau jadi terasa aneh—atau setidaknya berbeda dari orang-orang di sekelilingku.

Kenapa pendukung Ahok tidak suka Habib Rizieq? Dan kenapa pendukung Habib Rizieq tidak suka Ahok?

Jawabannya: mana aku tahu??? Aku bukan termasuk yang tidak suka.

Ya, aku suka keduanya. Bila bisa mendukung, aku mendukung keduanya.

Aku suka dengan apa yang dilakukan Ahok di Jakarta selama ia jadi gubernur. Aku juga tidak percaya ia melecehkan atau menista agama Islam dalam kejadian di Pulau Seribu itu. Tentang tidak percayaku—dan opiniku tentang kejadian itu—sudah kutulis di blog ini juga, postingan 27 Februari 2017.

Aku suka Habib Rizieq dengan pilihan jalur perjuangannya. Bukan memilih jalur amar ma’ruf, ia lebih banyak tampak di jalur nahi munkar. Dia tidak hanya mencegah kemungkaran, tetapi juga sangat aktif memeranginya. Tampaknya, kedok kebebasan maupun demokrasi tidak akan bisa menyembunyikan kemungkaran dari pandangan orang ini.

Tuduhan chat porno?

C’mon! memangnya orang bisa dituntut karena urusan itu? Obrolan porno ada di mana-mana. Jaman sekarang ini setiap orang bisa membuat grup di wasap, facebook dan banyak tempat [maya] lainnya. Belum lagi yang japri.

Saya juga sesekali chat porno dengan orang lain—bahkan dengan orang yang sudah menikah. Apalagi yang dibalut dengan humor. Puluhan kali. Jadi, kenapa tidak satu kalipun polisi mendatangi saya untuk mempermasalahkan itu?

Tapi Habib Rizieq? Chat porno? Memangnya dia segitu kurang kerjaan? Para penuduhnya tuh yang kurang kerjaan, jadi sempat-sempatkan bikin screenshot palsu.

Apakah pasti palsu? Entahlah. Tapi mereka tidak berani membuktikannya, kan?

Ahok, aku tidak melihatmu menghina islam dalam video yang merekammu di Pulau Seribu itu.

Rizieq, aku mendukungmu memerangi kemungkaran. Tapi Ahok tidak menghina Islam. Percaya, deh!

27
Feb
17

Ahok Menistakan Agama (…)

Ini tentang kasus Ahok. Mungkin ini sudah lewat puncaknya. Tetapi saya sudah telanjur memiliki gagasan, dan baru hari ini sempat menuliskannya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Mungkin tidak selalu begitu. Mungkin sebagian orang akan berpendapat lebih baik tidak usah sama sekali untuk topik yang ingin saya ungkapkan. Tetapi saya memilih untuk tetap mengungkapkannya.

Saya muslim. Saya salut pada kekompakan umat muslim pada aksi 212. Saya salut pada penggeraknya: pemimpin FPI. Saya juga salut pada konsistensi FPI dalam nahi munkar. Pada pemilihan presiden lalu, saya memilih Prabowo.

Baiklah, ini mengenai tuduhan tindakan menista agama, yang ditujukan kepada Ahok. Tindakan yang dimaksudkan sebagai penistaan agama itu adalah ucapan Ahok (yang sempat direkam dalam media video, dan sempat pula di-posting di media sosial).

Saya tidak akan membahas bahwa pengemasan pesan itu bukan hanya dengan editing, tetapi juga dalam merekam—bahkan dalam memilih  medianya. Tidak, saya sedang tidak ingin membahas yang berat-berat begitu—untuk kasus ini.

Saya hanya berpendapat begini: adalah berlebihan (alias lebay) menuduh ucapan Ahok itu sebagai penistaan terhadap agama Islam.

Mungkin saya salah kutip, atau salah sadur. Seingat saya, Ahok (dalam video itu) mengatakan kepada khalayak untuk jangan mau dibohongi dengan surat al-Maidah ayat 51. Ya, itu salah satu ayat dalam kitab suci Islam, Al-Qur’an.

Saya juga pernah mendengar di televisi, salah satu saksi ahli dalam persidangan kasus itu menerjemahkan kalimat “Jangan mau dibohongi dengan al-Maidah ayat 51” itu menjadi “berarti Al-Qur’an itu alat untuk berbohong”. Di situlah poin penistaan agama disangkakan. Dan di situlah—bagi saya—makin terasa lebay-nya.

Meyakini Al-Qur’an dan setiap ayat di dalamnya sebagai kebenaran adalah wajib bagi setiap muslim. Saya juga meyakini itu. Bahwa Al-Qur’an itu adalah benar dalam setiap ayatnya, dalam setiap hurufnya, setiap suratnya, maupun dalam keseluruhannya. Saya juga yakin—dan pasti banyak yang bisa membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak mengalami editing seperti kitab-kitab atau buku lain apapun di dunia ini.

Inilah yang terpikir dalam benak saya sejak Ahok dituduh orang menggunakan ayat Al-Qur’an untuk membohongi orang, dan Ahok mungkin memiliki ide yang sama dengan saya: bahwa pisau itu gunanya untuk mengupas mangga, tetapi di tangan orang yang tak tepat pisau juga bisa jadi alat untuk membunuh sesama. Apakah ada yang memprotes perusahaan/produsen pisau?

Itu seperti internet yang bisa digunakan untuk mempromosikan barang dagangan, tetapi juga bisa dijadikan sebagai media untuk transaksi prostitusi—atau sekadar menikmati konten porno.

“2+2=4”

“Pencetus teori evolusi itu Darwin.”

“Es mulai membeku pada suhu nol derajat Celcius.”

Itu benar. Ketiganya benar. Tetapi, tidakkah kita bisa menggunakannya secara curang untuk mendapatkan sesuatu yang kita mau? Tidakkah seorang siswa sekolah juga bisa mengatakan kebenaran (yang kebetulan menjadi jawaban dari sebuah soal ulangan) kepada temannya dengan imbalan traktiran di kantin?

Al-Qur’an, internet, pisau, mobil, pistol, jengkol, kokain, frekuensi radio, informasi, api … sebutkan benda apa saja! Dan semua bisa disalahgunakan tanpa mengurangi “kemuliaan” benda tersebut.

Sudah.

09
Dec
16

Lelucon Pekan Ini

Baiklah, saya sempatkan diri untuk mengungkapkan betapa sedihnya saya. Sedih sambil tertawa. Sedih karena melihat kebodohan saudara-saudara sebangsa. Tertawa karena kebodohan seringkali merupakan materi lawakan yang sangat bisa memancing tawa.

Satu: tentang penistaan agama

Entah berapa orang yang pernah melihat video yang dituduhkan sebagai bukti Ahok menistakan Al-Qur’an. Entah pula berapa orang yang hadir di sana (di Kepulauan Seribu) dan melihat/mendengar secara langsung sedari awal Ahok bicara. Tidakkah di sana ada muslim? Mereka yang tahu sebenarnya apakah Ahok menghina atau bukan.

Dalam pemahamanku yang dangkal dan sempit, Ahok itu mencalonkan diri di pilkada Jakarta karena maunya sendiri, bukan karena dipaksa orang. Sulit bagiku mempercayai kalau dia ceroboh dalam urusan popularitas. Dan dia sangat tahu bahwa mayoritas penduduk Jakarta adalah muslim.

(Saya masih sangat ingat ketika suatu hari di hadapan puluhan atau ratusan orang Presiden SBY mengatakan bahwa sudah enam (atau berapa?) tahun gajinya tidak naik. Hari-hari setelah itu dia di-bully di dunia maya. Mereka bilang Pak Presiden curhat, berkeluh-kesah, dan hal-hal semacamnya. Padahal saat itu Sang Presiden sedang memotivasi publik, terutama yang ada di hadapannya, mencontohkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa tanpa kenaikan gaji selama sekian tahunpun dia tetap penuh semangat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya mengurus bangsa dan negara tercinta. Itu kasus yang sangat nyata tentang pemelintiran statement dan/atau bully-tanpa-dasar-pemahaman)

Aksi 411 dan aksi 212 membela agama? Well, untuk mencintai agama, ya oke saja. Untuk menuduh Ahok? Sikap saya seperti di tiga paragraf sebelum ini.

Kalau soal penista agama, di facebook ada saaaaangat baaaanyaaaakkk. Dan sangat mudah dilihat. Tidak dipermasalahkan secara hukum formal karena itu dunia maya? Hei, bukankah dunia maya saat ini jauh lebih mujarab untuk menebar hasutan, fitnah, kebencian dan sejenis-jenis itu? Tidak masalah?

Kenapa tak ada tuntutan massal untuk pelaku bom bunuh diri yang mengatasnamakan ajaran agama? Kenapa tak ada yang melabelkan ‘penista agama’ kepada ISIS? Apakah karena beritanya tidak sampai ke telinga mereka?

Maaf, saya hanya bisa tertawa.

Dua: tentang bhinneka tunggal ika

Lucu sekali rasanya waktu membaca berita tentang FUI di Yogyakarta yang menuntut Universitas Kristen DW mencabut baliho info penerimaan mahasiswa baru karena di baliho itu ada gambar mahasiswi berhijab. Apakah mereka tidak tahu kalau universitas kristen mengijinkan orang Islam belajar di sana.

Tuntutan FUI itu–secara telak–melarang Universitas Kristen DW mempertunjukkan sikap toleran dan dukungan terhadap kebhinneka-tunggal-ikaan. Bagi otak dangkalku, tak ada makna lain yang lebih jelas dari itu.

Maaf, ada pengecualian. Pesan lain yang kalah jelas adalah identitas kelompok yang mengaku bernama FUI itu. Mereka pasti Forum Umat Intoleran.

Maaf, saya hanya bisa … hahahahahaaa …

Tiga: tentang sikap tidak adil (not fair)

Yang membuatku tertawa paling keras dalam hal ini akhir-akhir ini adalah tentang berita dari Jawa Barat. Atau Bandung, tepatnya? Maksudku yang tentang sekelompok orang yang mengaku Islam yang menghentikan ibadah umat Kristen. Tentang video yang menampakkan sejumlah orang di antara sekelompok umat Kristen yang sedang beribadah du sebuah ruangan besar, dan ada suara-suara yang melarang umat Kristen itu menyanyi. Juga pekikan-pekikan takbir di tengah-tengah ibadah umat Kristen itu. Itu yang saya lihat dalam sebuah video. (Jangan minta saya tunjukkan atau berikan link; saya cukup gaptek untuk urusan itu)

Juga tentang sebuah foto yang menunjukkan sejumlah orang merentang spanduk bertuliskan kalimat lucu. Saya tidak mengutipnya di sini (karena malas mencari fotonya), tapi kira-kira isinya mengklaim diri sebagai warga muslim Jawa Barat, tidak mengijinkan umat Kristen beribadah di tempat umum atau gedung sewaan, dan menyuruh umat Kristen beribadah di gereja saja.

Bagaimana tidak lucu??? Seminggu sebelumnya jutaan muslim melaksanakan sholat jumat di tempat umum, di jalan raya yang sehari-hari merupakan ruas-ruas jalan terpadat di ibukota negara, membuat banyak ruas jalan harus ditutup. Setelah aksi massa yang saaaangat dibangga-banggakan oleh segenap umat Islam (tidak hanya di Indonesia, saya kira) sebagai aksi yang super damai, tanpa kerusakan sebatang tanaman pun, lalu ada sekelompok orang mengaku muslim melarang orang Kristen beribadah di dalam gedung sewaan??? Kalau saya alumni aksi 212, pasti saya akan tanya mereka, “Eh, Tong … elu siapa? Agama elu apa? Agama elu pernah ada di nusantara di jaman siapa? Jaman Jendral Van Den Bosch?”

Kalau memfitnah dengan cara sekasar itupun masih ada orang yang percaya–bahwa sejumlah orang itu adalah muslim yang mendukung aksi 411 dan aksi 212–maka betapa menyedihkannya kebodohan orang-orang yang termakan fitnah-tak-cantik itu. Sialnya, lucu dan menyedihkan ternyata masih sangat bisa di-remix cantik; setidaknya di negeri besar ini.

Jadi, maaf, saya tertawakakakakak ….

Empat: tentang bunuh diri ala humas (public relation)

Ini juga lucu luar biasa, sekaligus sangat mengkhawatirkan. Saya sedang membicarakan klarifikasi dari perusahaan roti yang produknya diborong dan dibagi gratis untuk para partisipan aksi 212. Kalau mereka tidak melakukan apa-apa (maksud saya: tidak mengklarifikasi), mana ada oramg yang berpikir perusahaan itu menggratiskan produknya untuk para partisipan aksi?

Saya makin tertungging-tungging tertawa membaca komentar seseorang di facebook tentang itu. Komentar yang disertai gambar sebuah mobil pickup keren yang mengangkut satu-dua orang dan senjata api canggih, dan merk mobilnya terpampang jelas di tutup belakang bak pickup itu. Dan komentarnya kira-kira begini: Toyota aja nggak pernah mengklarifikasi ketidakterlibatannya dengan ISIS, meski jelas-jelas produknya dipergunakan oleh pasukan ISIS.

Bagian yang mengkhawatirkan adalah …. Sudahlah, semoga personel humas perusahaan roti itu masih dapat ditemukan … dalam keadaan hidup. (Ini juga saya kutip sebuah komentar di facebook) 😀

Makin terguling-guling lagi saya tertawa waktu banyak yang mau memboikot produk rotinya. Tapi sekali ini sambil sedih betulan. Tertawanya karena: ngapain mereka mau repot-repot memboikot kalau memang produk itu bisa memenuhi kebutuhan dan tidak menimbulkan gangguan? Sedih karena membayangkan omset yang menurun. Asal tahu saja, yang punya omset itu bukan cuma perusahaan, tapi para pedagang. Mungkin para pengasong juga.

Sudah dulu, ah. Ternyata mengetik di layar sentuh itu tidak senyaman di keyboard jadul. ^_^

14
Oct
16

Siapa yang memilih?

“Indonesia tuh hanya Jakarta,” begitu sindiran para netizen kepada media massa maupun sesamanya–termasuk yang para “aktivis” media sosial. Kali ini penyebabnya tak lain adalah pemberitaan dan topik terkait pilkada Jakarta. Tulisan ini bukan untuk ikut meramaikan, melainkan sekadar sebagai pengingat di masa depan bahwa pada awal Oktober 2016 salah satu topik yang bikin negeri ini ramai adalah pilkada Jakarta.

Sejujurnya, saya cuma mau menuliskan opini saya tentang salah satu subsubsubsubsubtopik dari pilkada itu. Yaitu tentang kampanye di dunia maya untuk tidak memilih pemimpin non muslim–untuk daerah yang mayoritas penduduknya muslim, tentu saja.

Pasti ada yang memulai gagasan itu–dalam konteks pilkada Jakarta. Lalu melontarkannya ke publik. Orang Islam biasanya tersinggung kalau dibilang tak beriman–walau mungkin dia sholatnya 5 kali dalam setahun. Juga, tak bisa menyangkal kalau argumennya diadu dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka tak berani berkata teks Al-Qur’an itu salah. Celah itu yang dikelola dengan baik oleh si pelempar gagasan.

Dikutiplah sebuah ayat dari Al-Qur’an. Mereka tak berani berkata teks Al-Qur’an itu salah. Sialnya, mereka juga belum tentu tahu teks yang disodorkan orang di hadapannya itu benar atau meleset-meleset sedikit. Celah itulah yang dikelola dengan sangat baik oleh para pelaksana kampanye jangan-pilih-pemimpin-non-muslim.

Mereka melontarkan kalimat yang jelas-jelas melarang orang Islam untuk memilih pemimpin dari golongan Yahudi dan Nasrani. Kalimat yang diklaim sebagai terjemahan dari ayat suci. Kalimat yang diklaim sebagai terjemahan langsung dari firman Tuhan. Kalimat yang diklaim sebagai perintah yang sangat jelas–bahkan bagi orang awam dan “orang luar” sekalipun.

Beberapa media massa (dan tokoh muslim dan netizen) berusaha mendinginkan suasana dengan komentar-komentar, opini maupun penafsiran yang sejuk. Yang ikut dalam kelompok ini pasti sadar betul bahayanya konflik horisontal berbasis agama. Semoga perjuangan mereka berhasil. Dan kita semua wajib membantu, karena mencegah peperangan sejatinya adalah mencari keselamatan diri sendiri.

Saya? Saya sempat-sempatkan melihat beberapa eksemplar Al-Qur’an, yang berwujud kertas maupun di monitor laptop dan ponsel saya. Beberapa itu semua yang beredar di Indonesia. Saya lihat pada teks berhuruf Arabnya, dan juga pada teks terjemahannya (Bahasa Indonesia).

Pada teks berhuruf Arab, beberapa eksemplar yang kulihat itu sama semua. Terjemahannya dalam Bahasa Indonesia juga. Kecuali pada kata \awliya\. Ada yang diterjemahkan menjadi \pemimpin\. Ada yang diterjemahkan menjadi \wali\.

Tentu saja saya bukan ahli tafsir. Saya juga tidak bisa Bahasa Arab. Saya tidak pernah punya ijasah atau sertifikat dari lembaga keagamaan maupun lembaga pendidikan keagamaan. Jadi, kalau saya ikut sok-sokan menganalisa [makna] ayat tersebut, saya pasti cuma bisa berdasar terjemahannya, bukan berdasar teks aslinya, apalagi konteks diturunkannya ayat tersebut.

Satu-satunya yang bisa saya komentari adalah perbedaan terjemahan itu.

Bahwa terjemahan yang digunakan dalam kampanye jangan-pilih-pemimpin-non-muslim adalah terjemahan yang menggunakan kata \pemimpin\. Mungkin karena mereka menganggap gubernur, bupati, presiden dan ketua RT adalah pemimpin. Pemimpin jenis ini menjadi pemimpin karena dipilih. Agak beda dibanding raja–yang menjadi pemimpin karena dapat warisan.

Saya tidak tahu definisi awliya. Salah satu teks terjemahan Al-Qur’an yang saya baca menggunakan kata \wali\ sebagai padanan kata \awliya\. Ini yang membuat saya ingat bedanya gubernur (dan apapun yang dipilih dalam pemilu) dan wali.

Mari kita bersepakat untuk mengeluarkan walikota dari pembicaraan. Jika wali itu pemimpin, atau pihak yang berwenang dan bertanggung jawab, maka kita bisa melihat bahwa wali tidak pernah dipilih oleh para anggota atau masyarakat atau kaumnya. Sunan Ampel tidak dipilih oleh masyarakat Ampel. Beliau jadi sunan dan wali karena kualitas dirinya, sehingga dipilh oleh Sang Mahabijaksana. Walimurid tidak dipilih oleh si murid. Walikelas juga tidak.

Jadi, apakah gubernur itu awliya?
Apakah bupati itu awliya?
Apakah walikota itu awliya?
Apakah presiden itu awliya?

26
May
16

Kenapa Kebiri?

Pagi tadi membaca berita, presiden menyetujui hukuman kebiri bagi pelaku pemerkosaan (atau kejahatan seksual) terhadap anak-anak. Well, itu sedikit melegakan. Sedikit, karena sikap presiden memang sudah ditunggu-tunggu—setidaknya oleh para netizen yang ‘suaranya’ bisa dirunut di berbagai situs berita (dalam berita maupun di kolom komentar) dan media sosial.

Yup, suara-suara yang menghendaki hukuman kebiri—dan hukuman mati—bagi para pelaku kejahatan seksual memuncak sejak kasus Yuyun, bocah awal remaja yang diperlakukan secara kejam oleh belasan remaja lain berumur sedikit di atasnya. Suara-suara menuntut itu menanjak naik seiring terungkapnya beberapa kasus kejahatan seksual yang korbannya adalah anak-anak di bawah umur. Dan memuncak pada kasus kejahatan seksual brutal-supersadis yang menimpa seorang perempuan muda (berusia 19 tahun) bernama Eno.

Saya sendiri tak terlalu mengikuti berita-berita itu. Terutama yang dua namanya kusebut itu. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak sampai hati saya membacanya. Apalagi melihat foto. Duhh ….. tadinya kukira perlakuan seperti itu hanya ada di era bodoh abad pertengahan di Eropa sana.

(Sengaja saya menggunakan kedua nama itu sebagai tag dalam tulisan ini–dan mungkin untuk tulisan-tulisan berikutnya–agar menjadi pengingat bagi saya. SYukur-syukur bagi kita semua. Pengingat tentang betapa kita harus membenahi moral generasi belia kita. Pengingat tentang betapa buruknya kita mendidik anak-anak kita.)

Kembali ke persetujuan presiden pada hukuman kebiri. Saya pribadi memiliki kekhawatiran tentang hukuman itu. Saya khawatir narapidana yang dikebiri tidak akan membuatnya insyaf dan berhenti berbuat kejahatan. Bukan karena saya meragukan efek jera dari pengebirian itu. tetapi, kekhawatiran saya itu lebih berdasar pada budaya berpikir negatif yang masih massif di negeri ini.

Yang saya maksudkan, orang masih mudah berprasangka buruk. Bahkan orang semakin cepat mengambil kesimpulan (entah sadar entah enggak) hanya dari membaca judul berita—tanpa membaca isinya. Orang masih menganggap hukuman sebagai bentuk kebencian terhadap dirinya, bukan sebagai ganjaran atas apa yang telah diperbuat. Contohnya sangat gampang kita lihat. Seorang siswa yang tidak memperhatikan guru, atau mengganggu sesamanya di kelas, atau berbuat sesuatu yang tidak dibenarkan oleh guru, lalu guru memberikan hukuman fisik. Si murid lapor orangtua, orangtua lapor polisi, guru masuk bui. Murid dihukum bukannya sadar dia salah, tetapi justru membawa banyak pihak untuk sama-sama menyalahkan guru.

Itulah kekhawatiran saya mengenai pemberlakuan hukuman kebiri. Jangan-jangan terpidana kebiri itu malah dendam, lalu melampiaskan nafsu kejahatannya dengan melakukan kejahatan-kejahatan lain—atau bahkan melakukan kejahatan seksual dengan alat selain alat kelaminnya.

Saya memang bukan pemikir yang mendalam. Saya juga sering mencari praktisnya saja. Itu pula yang membuat saya lebih setuju hukuman mati sesegera mungkin untuk para pelaku kejahatan seksual, terutama yang mengambil korban anak-anak, atau yang melakukannya dengan keji/sadis.

Saya yakin, penjahat seksual tidak kita perlukan dalam hidup ini. Saya yakin, dunia juga akan lebih aman bila jenis kejahatan atau jumlah penjahatnya berkurang—walau hanya satu item dan satu orang sekalipun. Saya juga meyakini kebenaran salah satu pepatah yang diajarkan kepada saya pada masa kecil dulu, yaitu “lebih baik mencegah daripada mengobati.” Mencegah balas dendam dari para penjahat lebih baik daripada memberinya kesempatan untuk melakukan itu. Mencegahnya dengan cara paling efektif: membunuhnya dengan modus hukuman mati.

Apakah harus mati? Apakah dia tidak berhak memiliki masa depan?

Entahlah. Tetapi anak di bawah umur yang mengalami trauma psikis, apakah dia punya masa depan? Apakah masa depannya tidak terus terhantui oleh sosok yang telah merenggut keceriaannya? Apakah setiap individu dalam masyarakat kita bisa menahan untuk tidak melakukan apapun yang membuat korban malu—sekarang atau seumur hidup si korban?

Bicara mengenai kesempatan, kadang kala kita mendengar ucapan orang bijak bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Hah .. di negeri yang budaya berpikir negatifnya masih massif ini, menjadi insaf melalui kesempatan kedua adalah sebuah keajaiban. Bukannya tidak ada, tetapi kita menjumpainya lebih banyak di tayangan-tayangan tidak bermutu di televisi kita.

Setidaknya, si terpidana tidak dieksekusi mati pada detik vonis dijatuhkan. Masih ada beberapa jam untuk dia bertobat.

Ya, beberapa jam. Karena sebaiknya kita tidak membuang-buang uang rakyat (kas negara) untuk memberi makan para penjahat seksual itu di penjara. Begitu, menurut saya.

Oh ya, saya pernah mendengar sebuah pepatah dari Sicilia (iya, yang di Italia itu), berbunyi: “Sekali kamu memaafkan seorang maling, lain hari dia akan mencuri lagi.” *****

19
Jan
16

Baju Putih Itu Sederhana* … (*Sederhana Itu Relatif)

Seperti terlihat di televisi dan pada foto-foto di media, presiden kita saat ini ke mana-mana sering mengenakan baju putih saja sehari-harinya. Baju batik atau setelan jas hanya beliau pakai pada acara-acara tertentu. Mungkin acara khusus yang memang formal sifatnya.

Tadinya saya bertanya, kenapa kemeja putih? Baiklah, itu menunjukkan kesederhanaan. Tidak macam-macam, walau tidak semua kemeja putih itu sederhana. Ada yang harganya hanya puluhan ribu rupiah sepotong, ada juga yang melebihi UMR. Yang jelas, kesederhanaan baju putih presiden itu semakin tergambar pada cara pakainya: tak usah repot-repot memasukkan ujung bawahnya ke dalam celana, sehingga tidak perlu pula pamer ikat pinggang mahal. Dan jujur saja, kesan sederhana itu semakin kuat karena dukungan postur sang presiden yang kurus kerempeng, bukan postur kuli perut.

Kesederhanaan itu kemudian disebarluaskan. Bukan kesannya, tetapi semangatnya. (Well, maksud saya, terlepas dari ada/tidaknya, saya sedang tidak ingin membahas tentang penyebarluasan kesan kesederhanaan alias pencitraan itu)

Eh, maaf, benar kan semangat kesederhanaan itu yang disebarluaskan? Pada acara pelantikan kabinet, para menteri tidak perlu mengenakan setelah jas. Supaya lebih terlihat semangat kesederhanaannya, dress code bagi para menteri saat itu adalah pakaian atas putih dan bawah hitam. Sederhana. Tidak perlu setelan jas yang pastinya lebih mahal harganya. Bahkan, biaya laundry satu setel jas mungkin cukup untuk membeli sepotong kemeja putih lengan panjang, kan?

Di hari-hari kemudian, beberapa menteri menerapkan gaya berpakaian itu dalam banyak kesempatan. Selain melihat di layar kaca dan pada foto-foto di media massa online maupun cetak, saya sendiri pernah mengikuti sebuah acara yang dihadiri oleh salah seorang menteri; ia mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang ujungnya menutupi ikat pinggang—kalau memang ia mengenakan ikat pinggang, sih.

Di hari-hari kemudiannya lagi, kemeja putih dijadikan sebagai salah satu pakaian kerja rutin pegawai negeri sipil (PNS); terserah anda menyebutnya aparatur sipil negara atau apa, saya akan menyebutnya PNS saja supaya lebih singkat.

Saya pribadi masih bisa menerima pesan kesederhanaan kemeja putih itu ketika dipakai oleh presiden dan para menteri. Tapi tidak pada PNS. Mengapa? Karena presiden, wakilnya dan para menteri tidak punya seragam kerja. Presiden, wakilnya dan para menteri tidak harus mengenakan baju hijau linmas pada hari Senin, tidak harus berbaju apa pada hari Selasa, tidak harus pakai baju entah di hari Rabu. Mereka bisa mengenakan kemeja putih kapan saja di luar acara-acara formal tertentu. Presiden juga bisa bilang, “Pelantikan kabinet nanti pakai kemeja putih saja.” Atau, “Nanti kita rapat nggak usah pakai jas, tapi batik saja.” Untuk kunjungan kerja, blusukan, menghadiri seminar, meresmikan jembatan, mendahului petani memanen padi dan sejenis-sejenis itu kostumnya cukup kemeja putih dan busana bawahnya berwarna gelap. Memang sederhana, karena semakin banyaknya kegiatan mereka tidak membuat pakaian mereka semakin beragam; semakin banyak aktivitas mereka dengan dress code cukup kemeja putih.

Sedangkan PNS sudah punya seragam kerja sehari-hari. Terutama PNS daerah yang sejak dulu kala dalam seminggu minimal memiliki dua macam baju kerja, yaitu setelah warna khaki-kekuningan dan batik. Sebagian daerah juga masih setia memberlakukan seragam hijau linmas pada hari Senin. Beberapa daerah—dan beberapa instansi—bahkan memiliki seragam kerja selain yang tiga itu. Misalnya, busana khas daerah untuk hari tertentu—seperti pakaian Betawi yang dipakai Ahok setiap Rabu.

(Khusus untuk penggunaan batik atau busana khas daerah sebagai seragam/pakaian kerja, saya tidak ingin mempertanyakan karena saya mendukung penggunaan, pelestarian dan membanggakan busana khas daerah sebagai implementasi kecintaan terhadap kekayaan budaya nusantara. Kalau tidak “dipaksa” begitu, mungkin para PNS itu lebih suka membeli kemeja baju selain batik—dan itu kurang baik untuk ekonomi kerakyatan berbasis batik, kelestarian budaya nusantara, dan kecintaan terhadap budaya bangsa sendiri.)

Walaupun sederhana itu relatif, tetapi apakah kemeja putih itu lebih sederhana dibanding setelan pakaian linmas atau pakaian dinas harian warna khaki-kekuningan itu? Baiklah, anggap saja lebih sederhana karena cara memakainya tidak perlu memasukkan ujung bawahnya ke dalam pinggang celana—sehingga tidak mengharuskan kehadiran ikat pinggang.

Dalam hal penggunaan kemeja putih sebagai pakaian kerja, yang sangat berbeda pada presiden, wakilnya dan para menteri di satu sisi dan para PNS di sisi lain adalah jumlah jenis pakaian kerja yang dipakai secara rutin. Pada presiden, kemeja putih mengurangi ragam pakaian dinas sehari-harinya. Sedangkan pada PNS (terutama kebanyakan PNS daerah), penerapan kemeja putih sebagai pakaian kerja justru menambah jenis baju kerja yang harus mereka pakai setiap pekan.

Yang saya tidak mengerti adalah, apakah penambahan jenis baju wajib itu bisa dikatakan sebagai penyederhanaan, atau kesederhanaan, atau menunjukkan sikap hidup sederhana?

Bagi saya pribadi, yang otaknya dangkal ini, kesederhanaan itu tampak pada sedikitnya jumlah keragaman. Semakin tidak beragam, semakin sederhana. Semakin sedikit jenis baju kerja, semakin sederhana. Seperti Mark Zuckerberg yang tiap hari bajunya sama jenis, model dan warnanya. Itu sederhana. Dan itu sama sekali tidak mengurangi kinerjanya dalam mengelola perusahaan. *****

02
Nov
15

Miskin, Makanannya Impor, Beracun Pula

Pernah dengar tentang keamanan pangan? Itu sesuatu tentang risiko mengkonsumsi bahan pangan tertentu. Yang rutin terlihat adalah menjelang lebaran, yaitu ketika instansi pemerintah tiba-tiba rajin merazia toko-toko dan pedagang makanan yang menjadi incaran para pembeli untuk berhari raya. Biasanya, razia itu menyasar soal masa kadaluwarsa produk bahan makanan.

Tapi, ada soal lain yang membuat bangsa ini benar-benar ditimpa kemalangan. Yang saya maksudkan adalah kenyataan bahwa jenis bahan pangan yang murah dan relatif terjangkau bagi rakyat miskin di negeri ini adalah tempe dan tahu.

Kenapa malang? Bukankah tempe dan tahu adalah bahan makanan bergizi tinggi? Bukankah kedua jenis makanan itu terbuat dari kedelai? Dan bukankah kedelai adalah salah satu bahan yang memiliki kandungan protein nabati tertinggi dibanding banyak bahan lainnya?

Yup! Semua itu benar.

Malangnya, produksi kedelai dalam negeri dikatakan masih sangat kurang dibandingkan kebutuhan masyarakat. Yang kurang apanya?

Kalau melihat data statistik, yang kurang ya jumlah produksinya. Yang kurang ya kuantitasnya.

Kalau mendengar omongan para pengrajin/pembuat tahu dan/atau tempe, yang kurang bahkan kualitasnya. Misalnya, ukuran kedelai domestik tidak sejumbo kedelai impor. Para produsen tempe dan tahu—yang biasanya minta digolongkan sebagai pengusaha mikro atau rakyat kecil–menilai kedelai dalam negeri tidak cukup baik untuk bahan baku tempe dan tahu. Pernah juga kubaca di media massa, mereka bilang tempe dan tahu dari kedelai domestik tidak disukai pembeli. Ukurannya yang lebih kecil [sehingga terlihat kurang menarik] sering dijadikan alasan.

(Saya heran. Kalau semua pengrajin tempe dan tahu hanya menggunakan kedelai domestik sebagai bahan baku—sehingga tidak ada lagi tempe dan tahu berbahan dasar kedelai impor di pasaran—apakah para pembeli akan beralih ke produk lain? Jika itu terjadi, apakah rakyat miskin yang semula sering makan tempe/tahu akan mengalihkan belanjanya ke ikan, misalnya? Atau keripik/kerupuk?)

Sialnya, para produsen tempe/tahu itu tidak berani menggalang sesamanya untuk semua bersepakat menggunakan kedelai domestik—dan tidak membiarkan pembeli menyetir mereka.

Kemalangan berkelanjutan bangsa kita ini adalah bahwa permintaan kedelai kita dipenuhi dengan impor. Tempe dan tahu yang notabene makanan rakyat kecil, yang menjadi andalan bagi rakyat berpenghasilan rendah untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka, dan digadang-gadang bergizi tinggi pula, harus mengandalkan impor untuk ketersediaan bahan bakunya.

Makin malang lagi, karena impornya dari amrik. Bukan karena amrik itu kapitalis. Bukan pula karena amrik itu penguasa yang harus kita tentang—walau mungkin memang sebaiknya begitu. Tapi, karena kedelai amrik yang jumbo-jumbo ukurannya itu bukan kedelai ‘alami’. Negeri itu mendukung pertanian dengan cara mendorong budidaya tanaman hasil rekayasa—sebagai salah satu cara mencapai kuantitas produksi yang wow.

Tanaman hasil rekayasa genetika, atau hasil transgenik, itu banyak. Kapas, misalnya. Tapi kapas tidak masuk ke perut orang. Paling-paling kapas itu jadi bahan baku tekstil sehingga akhirnya hanya menempel saja sebagai pakaian manusia. Tapi kedelai itu bahan pangan. Dan rakyat menengah ke bawah kita, dan juga rakyat miskin kita, banyak mengkonsumsinya?

Alangkah malangnya ….




menulis itu harus.
mengupil itu pilihan.

hmmm....

tentang …….

saldo

August 2017
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

senangnyaaa, blog ini pernah dikunjungi

  • 8,227 kali ^_^

yg punya wordpress akan senang ngasih tau via email jika Anda ngasih alamat email di sini, trus klik tombol jelek di bawah itu ^_^

blog-blog berikut juga seruuu …


BILIK SUNYI RANDU ALAMSYAH

After years of waiting, nothing came...

ANTI-TANK

ART IS POWER!

Ninok Eyiz's Journey

Just think and want to share..menulis itu memang untuk kesehatan jiwa..[ku]

Islam di Atas Mazhab

Mengenal Lalu Bersatu

pelukissenja

Just another WordPress.com site

PADAMARGA!

in sanskrit padamarga means the little path...

Edo Rusyanto's Traffic

Edo Rusyanto's Traffic

hari-hari tiap hari

corat-coret seorang PNS yang sedang membiasakan diri menulis [sambil mengupil] ^_^

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.