Archive Page 2

09
Dec
16

Lelucon Pekan Ini

Baiklah, saya sempatkan diri untuk mengungkapkan betapa sedihnya saya. Sedih sambil tertawa. Sedih karena melihat kebodohan saudara-saudara sebangsa. Tertawa karena kebodohan seringkali merupakan materi lawakan yang sangat bisa memancing tawa.

Satu: tentang penistaan agama

Entah berapa orang yang pernah melihat video yang dituduhkan sebagai bukti Ahok menistakan Al-Qur’an. Entah pula berapa orang yang hadir di sana (di Kepulauan Seribu) dan melihat/mendengar secara langsung sedari awal Ahok bicara. Tidakkah di sana ada muslim? Mereka yang tahu sebenarnya apakah Ahok menghina atau bukan.

Dalam pemahamanku yang dangkal dan sempit, Ahok itu mencalonkan diri di pilkada Jakarta karena maunya sendiri, bukan karena dipaksa orang. Sulit bagiku mempercayai kalau dia ceroboh dalam urusan popularitas. Dan dia sangat tahu bahwa mayoritas penduduk Jakarta adalah muslim.

(Saya masih sangat ingat ketika suatu hari di hadapan puluhan atau ratusan orang Presiden SBY mengatakan bahwa sudah enam (atau berapa?) tahun gajinya tidak naik. Hari-hari setelah itu dia di-bully di dunia maya. Mereka bilang Pak Presiden curhat, berkeluh-kesah, dan hal-hal semacamnya. Padahal saat itu Sang Presiden sedang memotivasi publik, terutama yang ada di hadapannya, mencontohkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa tanpa kenaikan gaji selama sekian tahunpun dia tetap penuh semangat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya mengurus bangsa dan negara tercinta. Itu kasus yang sangat nyata tentang pemelintiran statement dan/atau bully-tanpa-dasar-pemahaman)

Aksi 411 dan aksi 212 membela agama? Well, untuk mencintai agama, ya oke saja. Untuk menuduh Ahok? Sikap saya seperti di tiga paragraf sebelum ini.

Kalau soal penista agama, di facebook ada saaaaangat baaaanyaaaakkk. Dan sangat mudah dilihat. Tidak dipermasalahkan secara hukum formal karena itu dunia maya? Hei, bukankah dunia maya saat ini jauh lebih mujarab untuk menebar hasutan, fitnah, kebencian dan sejenis-jenis itu? Tidak masalah?

Kenapa tak ada tuntutan massal untuk pelaku bom bunuh diri yang mengatasnamakan ajaran agama? Kenapa tak ada yang melabelkan ‘penista agama’ kepada ISIS? Apakah karena beritanya tidak sampai ke telinga mereka?

Maaf, saya hanya bisa tertawa.

Dua: tentang bhinneka tunggal ika

Lucu sekali rasanya waktu membaca berita tentang FUI di Yogyakarta yang menuntut Universitas Kristen DW mencabut baliho info penerimaan mahasiswa baru karena di baliho itu ada gambar mahasiswi berhijab. Apakah mereka tidak tahu kalau universitas kristen mengijinkan orang Islam belajar di sana.

Tuntutan FUI itu–secara telak–melarang Universitas Kristen DW mempertunjukkan sikap toleran dan dukungan terhadap kebhinneka-tunggal-ikaan. Bagi otak dangkalku, tak ada makna lain yang lebih jelas dari itu.

Maaf, ada pengecualian. Pesan lain yang kalah jelas adalah identitas kelompok yang mengaku bernama FUI itu. Mereka pasti Forum Umat Intoleran.

Maaf, saya hanya bisa … hahahahahaaa …

Tiga: tentang sikap tidak adil (not fair)

Yang membuatku tertawa paling keras dalam hal ini akhir-akhir ini adalah tentang berita dari Jawa Barat. Atau Bandung, tepatnya? Maksudku yang tentang sekelompok orang yang mengaku Islam yang menghentikan ibadah umat Kristen. Tentang video yang menampakkan sejumlah orang di antara sekelompok umat Kristen yang sedang beribadah du sebuah ruangan besar, dan ada suara-suara yang melarang umat Kristen itu menyanyi. Juga pekikan-pekikan takbir di tengah-tengah ibadah umat Kristen itu. Itu yang saya lihat dalam sebuah video. (Jangan minta saya tunjukkan atau berikan link; saya cukup gaptek untuk urusan itu)

Juga tentang sebuah foto yang menunjukkan sejumlah orang merentang spanduk bertuliskan kalimat lucu. Saya tidak mengutipnya di sini (karena malas mencari fotonya), tapi kira-kira isinya mengklaim diri sebagai warga muslim Jawa Barat, tidak mengijinkan umat Kristen beribadah di tempat umum atau gedung sewaan, dan menyuruh umat Kristen beribadah di gereja saja.

Bagaimana tidak lucu??? Seminggu sebelumnya jutaan muslim melaksanakan sholat jumat di tempat umum, di jalan raya yang sehari-hari merupakan ruas-ruas jalan terpadat di ibukota negara, membuat banyak ruas jalan harus ditutup. Setelah aksi massa yang saaaangat dibangga-banggakan oleh segenap umat Islam (tidak hanya di Indonesia, saya kira) sebagai aksi yang super damai, tanpa kerusakan sebatang tanaman pun, lalu ada sekelompok orang mengaku muslim melarang orang Kristen beribadah di dalam gedung sewaan??? Kalau saya alumni aksi 212, pasti saya akan tanya mereka, “Eh, Tong … elu siapa? Agama elu apa? Agama elu pernah ada di nusantara di jaman siapa? Jaman Jendral Van Den Bosch?”

Kalau memfitnah dengan cara sekasar itupun masih ada orang yang percaya–bahwa sejumlah orang itu adalah muslim yang mendukung aksi 411 dan aksi 212–maka betapa menyedihkannya kebodohan orang-orang yang termakan fitnah-tak-cantik itu. Sialnya, lucu dan menyedihkan ternyata masih sangat bisa di-remix cantik; setidaknya di negeri besar ini.

Jadi, maaf, saya tertawakakakakak ….

Empat: tentang bunuh diri ala humas (public relation)

Ini juga lucu luar biasa, sekaligus sangat mengkhawatirkan. Saya sedang membicarakan klarifikasi dari perusahaan roti yang produknya diborong dan dibagi gratis untuk para partisipan aksi 212. Kalau mereka tidak melakukan apa-apa (maksud saya: tidak mengklarifikasi), mana ada oramg yang berpikir perusahaan itu menggratiskan produknya untuk para partisipan aksi?

Saya makin tertungging-tungging tertawa membaca komentar seseorang di facebook tentang itu. Komentar yang disertai gambar sebuah mobil pickup keren yang mengangkut satu-dua orang dan senjata api canggih, dan merk mobilnya terpampang jelas di tutup belakang bak pickup itu. Dan komentarnya kira-kira begini: Toyota aja nggak pernah mengklarifikasi ketidakterlibatannya dengan ISIS, meski jelas-jelas produknya dipergunakan oleh pasukan ISIS.

Bagian yang mengkhawatirkan adalah …. Sudahlah, semoga personel humas perusahaan roti itu masih dapat ditemukan … dalam keadaan hidup. (Ini juga saya kutip sebuah komentar di facebook) 😀

Makin terguling-guling lagi saya tertawa waktu banyak yang mau memboikot produk rotinya. Tapi sekali ini sambil sedih betulan. Tertawanya karena: ngapain mereka mau repot-repot memboikot kalau memang produk itu bisa memenuhi kebutuhan dan tidak menimbulkan gangguan? Sedih karena membayangkan omset yang menurun. Asal tahu saja, yang punya omset itu bukan cuma perusahaan, tapi para pedagang. Mungkin para pengasong juga.

Sudah dulu, ah. Ternyata mengetik di layar sentuh itu tidak senyaman di keyboard jadul. ^_^

30
Nov
16

Ternyata Sehebat Itu?

Dalam seminggu ini ada tiga apel besar digelar di sekitar kantor saya. Apel yang menghadirkan berbagai unsur, mulai dari militer, kepolisian, organisasi kemasyarakatan, forum kerukunan umat beragama, pemuda, pelajar dan entah apa lagi.

Ketiga apel itu dipandegani oleh pihak yang itu-itu juga: kepolisian dan militer. Setahu saya, ada juga yang “membajak” nama forum koordinasi pimpinan daerah untuk menggelar salah satu apel tersebut, tetapi tetap saja inisiatifnya dari pihak bersenjata.

Ketiga apel itu memiliki tema yang mirip-mirip, yaitu tidak jauh-jauh dari persatuan dan kesatuan, NKRI, bhinneka tunggal ika, dan entah frase-frase senada itu apa lagi yang dipakai.

Apel-apel itu bukan kegiatan rutin. Karena yang rutin di hari-hari terdekat adalah peringatan Hari Pahlawan (10 November), peringatan Hari Guru (25 November), hari KORPRI (29 November) dan Bulan Menanam Nasional (Desember). Dari 4 momen ini, yang paling terasa dekatnya dengan tema-tema apel itu adalah yang pertama. Tapi terasa jauh juga karena apel-apel itu terkesan diadakan secara mendadak—setidaknya seminggu—setelah peringatan Hari Pahlawan.

Sempat terdengar olehku selentingan tentang latar belakang munculnya inisiatif untuk apel-apel itu. Tidak lain adalah rencana aksi 2 Desember (212) di Jakarta—yang merupakan sekuel kedua dari aksi 4 November (411) lalu.

Aksi 411 terbukti mampu mengumpulkan ratusan ribu massa. Dan perkiraan semula dari banyak pihak mengenai aksi 212 ternyata meleset: banyak yang semula mengira aksi 212 tidak akan sehebat aksi 411—dalam hal jumlah peserta (massa).

Salah satu faktor yang membuat perkiraan itu jungkir-balik adalah fenomena Ciamis. Yup, sejumlah relatif besar orang yang berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta untuk berpartisipasi dalam aksi 212. Yang semula diberitakan oleh media besar bahwa jumlahnya hanya puluhan orang, lalu segera terkonfirmasi oleh informasi yang gencar dan pesat beredar di media-media sosial di dunia maya.

Belum lagi, dalam banyak informasi yang beredar di media sosial, para pejalan kaki dari Ciamis itu banyak mendapat dukungan di sepanjang jalan. Salah satu bukti visualnya adalah makanan dan minuman yang disediakan oleh para warga di sepanjang rute mereka. Tidak susah melihat dan meyakini apakah penyediaan makanan dan minuman oleh warga itu sebagai bentuk dukungan atau bentuk “suap agar mereka tidak berbuat anarkis”.

Pihak berwenang semula memang tidak mengijinkan penggunaan angkutan umum untuk membawa para calon peserta aksi 212 menuju Jakarta. Belakangan mereka melunak. Mereka mengijinkan hal tersebut. Mungkin mereka akan terlihat lucu jika tetap tidak mengijinkan lalu media sosial dipenuhi gambar, video dan cerita tentang perjalanan pulang orang-orang dari Jakarta ke Ciamis.

Nah, kembali ke apel-apel tadi. Kalau memang itu ditujukan untuk menjaga situasi agar rencana aksi 212 tidak menimbulkan banyak masalah (entah masalah persatuan, kesatuan ataupun dukungan terhadap pemerintah), maka saya hanya semakin terpancing untuk mengambil kesimpulan begini: betapa hebatnya pencetus aksi 411 dan aksi 212 itu. Siapa dia? Habib Rizieq? Pemimpin FPI yang banyak dihujat itu? Jadi sebegitu hebatkan dia sehingga pihak berwenang merasa perlu menggalang dukungan di seluruh daerah?

Entahlah. Saya mau cuci baju dulu.

23
Nov
16

Rohingya … Apapun Alasannya

Beberapa pekan terakhir media sosial—dan media-media “pinggiran” a.k.a non-mainstream—tengah gencar-gencarnya meneriakkan solidaritas mereka terhadap orang-orang Rohingya. Ya, berita mengenai kekejaman pihak pemegang otoritas, rezim atau apapun sebutannya terhadap orang-orang sipil yang oleh banyak media disebut sebagai Rohingya.

Secara sepintas, teriakan yang paling banyak adalah teriakan kepada bisunya media-media internasional—dan media-media mainstream—atas kekejaman yang diterapkan kepada kaum muslim Rohingya.

Teriakan-teriakan yang mempertanyakan tentang ketidak-adilan media-media internasional yang menutup mata dari kekerasan-kekerasan yang dialami oleh orang-orang muslim di Serbia, Palestina, Yaman, Mesir, Siria, Iraq, … dan tentu saja Rohingya.

Lalu, beberapa postingan mulai muncul, mencoba memberi kita pemahaman yang lebih luas mengenai latar belakang konflik dan kekerasan di Myanmar itu. Bahwa Rohingya itu bukan suku, bahwa Rohingya itu nama daerah alias nama geografis, dan sebenarnya tidak otomatis berkaitan dengan agama.

Bahwa Rohingya itu keturunan Bengal (Bangladesh) (mungkin ada campuran dengan darah Myanmar) sehingga tidak diakui sebagai suku maupun warga negara oleh Myanmar. Ketatnya Myanmar dalam memberi status dan hak kewarganegaraan tecermin dalam undang-undang kewarganegaraan yang diberlakukan sejak 1982, merevisi undang-undang serupa yang sebelumnya.

Bahwa nama Rohingya sendiri menjadi seperti pisau yang melukai masyarakat di daerah tertentu di wilayah Myanmar.

Bahwa keturunan Bengal itu sebagian besarnya memeluk agama Islam dan [mungkin memiliki etos kerja yang lebih baik sehingga] umumnya berhasil meraih penghidupan atau tingkat ekonomi yang lebih baik dibanding etnis asli.

Bahwa kekerasan yang terjadi itu bukan atas warga muslim, melainkan kepada orang-orang sipil keturunan Bengal yang bermukim di wilayah Myanmar dan menyebut diri sebagai Rohingya.

Bahkan, ada juga berita tentang Aung Sang Suukyi (yup, maksudku perempuan Myanmar yang pernah menerima Nobel Perdamaian, yang juga anak Jendral Suukyi yang pernah berkuasa di negeri itu beberapa dekade yang lalu) dengan statement bahwa situasi ekstrim sedang terjadi di seluruh wilayah Myanmar dan bukan hanya di Rohingya.

Saya sendiri tidak bisa mencari sumber yang otentik, kredibel dan tidak berpihak/berkepentingan. Tapi saya tahu satu hal: tidak peduli berlatar belakang agama, ras, suku/etnis, politik, atau apapun namanya, kekerasan tidak seharusnya dibiarkan terjadi.

Hak Asasi Manusia berlaku untuk untuk seluruh dan setiap manusia, tak peduli apapun agama, suku, bahasa, keyakinan politik, warga negara ataupun hobinya.

Tidak pula dengan alasan itu urusan domestik negara tersebut.

14
Oct
16

Siapa yang memilih?

“Indonesia tuh hanya Jakarta,” begitu sindiran para netizen kepada media massa maupun sesamanya–termasuk yang para “aktivis” media sosial. Kali ini penyebabnya tak lain adalah pemberitaan dan topik terkait pilkada Jakarta. Tulisan ini bukan untuk ikut meramaikan, melainkan sekadar sebagai pengingat di masa depan bahwa pada awal Oktober 2016 salah satu topik yang bikin negeri ini ramai adalah pilkada Jakarta.

Sejujurnya, saya cuma mau menuliskan opini saya tentang salah satu subsubsubsubsubtopik dari pilkada itu. Yaitu tentang kampanye di dunia maya untuk tidak memilih pemimpin non muslim–untuk daerah yang mayoritas penduduknya muslim, tentu saja.

Pasti ada yang memulai gagasan itu–dalam konteks pilkada Jakarta. Lalu melontarkannya ke publik. Orang Islam biasanya tersinggung kalau dibilang tak beriman–walau mungkin dia sholatnya 5 kali dalam setahun. Juga, tak bisa menyangkal kalau argumennya diadu dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka tak berani berkata teks Al-Qur’an itu salah. Celah itu yang dikelola dengan baik oleh si pelempar gagasan.

Dikutiplah sebuah ayat dari Al-Qur’an. Mereka tak berani berkata teks Al-Qur’an itu salah. Sialnya, mereka juga belum tentu tahu teks yang disodorkan orang di hadapannya itu benar atau meleset-meleset sedikit. Celah itulah yang dikelola dengan sangat baik oleh para pelaksana kampanye jangan-pilih-pemimpin-non-muslim.

Mereka melontarkan kalimat yang jelas-jelas melarang orang Islam untuk memilih pemimpin dari golongan Yahudi dan Nasrani. Kalimat yang diklaim sebagai terjemahan dari ayat suci. Kalimat yang diklaim sebagai terjemahan langsung dari firman Tuhan. Kalimat yang diklaim sebagai perintah yang sangat jelas–bahkan bagi orang awam dan “orang luar” sekalipun.

Beberapa media massa (dan tokoh muslim dan netizen) berusaha mendinginkan suasana dengan komentar-komentar, opini maupun penafsiran yang sejuk. Yang ikut dalam kelompok ini pasti sadar betul bahayanya konflik horisontal berbasis agama. Semoga perjuangan mereka berhasil. Dan kita semua wajib membantu, karena mencegah peperangan sejatinya adalah mencari keselamatan diri sendiri.

Saya? Saya sempat-sempatkan melihat beberapa eksemplar Al-Qur’an, yang berwujud kertas maupun di monitor laptop dan ponsel saya. Beberapa itu semua yang beredar di Indonesia. Saya lihat pada teks berhuruf Arabnya, dan juga pada teks terjemahannya (Bahasa Indonesia).

Pada teks berhuruf Arab, beberapa eksemplar yang kulihat itu sama semua. Terjemahannya dalam Bahasa Indonesia juga. Kecuali pada kata \awliya\. Ada yang diterjemahkan menjadi \pemimpin\. Ada yang diterjemahkan menjadi \wali\.

Tentu saja saya bukan ahli tafsir. Saya juga tidak bisa Bahasa Arab. Saya tidak pernah punya ijasah atau sertifikat dari lembaga keagamaan maupun lembaga pendidikan keagamaan. Jadi, kalau saya ikut sok-sokan menganalisa [makna] ayat tersebut, saya pasti cuma bisa berdasar terjemahannya, bukan berdasar teks aslinya, apalagi konteks diturunkannya ayat tersebut.

Satu-satunya yang bisa saya komentari adalah perbedaan terjemahan itu.

Bahwa terjemahan yang digunakan dalam kampanye jangan-pilih-pemimpin-non-muslim adalah terjemahan yang menggunakan kata \pemimpin\. Mungkin karena mereka menganggap gubernur, bupati, presiden dan ketua RT adalah pemimpin. Pemimpin jenis ini menjadi pemimpin karena dipilih. Agak beda dibanding raja–yang menjadi pemimpin karena dapat warisan.

Saya tidak tahu definisi awliya. Salah satu teks terjemahan Al-Qur’an yang saya baca menggunakan kata \wali\ sebagai padanan kata \awliya\. Ini yang membuat saya ingat bedanya gubernur (dan apapun yang dipilih dalam pemilu) dan wali.

Mari kita bersepakat untuk mengeluarkan walikota dari pembicaraan. Jika wali itu pemimpin, atau pihak yang berwenang dan bertanggung jawab, maka kita bisa melihat bahwa wali tidak pernah dipilih oleh para anggota atau masyarakat atau kaumnya. Sunan Ampel tidak dipilih oleh masyarakat Ampel. Beliau jadi sunan dan wali karena kualitas dirinya, sehingga dipilh oleh Sang Mahabijaksana. Walimurid tidak dipilih oleh si murid. Walikelas juga tidak.

Jadi, apakah gubernur itu awliya?
Apakah bupati itu awliya?
Apakah walikota itu awliya?
Apakah presiden itu awliya?

06
Oct
16

Timbul dan Tenggelam, Siapa yang Ambil Untung?

Negeri kita benar-benar kaya akan keragaman. Benar-benar bhinneka. Salah satu buktinya, tokoh-tokoh baru bermunculan tak henti-henti di negeri kita. Berganti-ganti. Ada yang panjang umur—alias berlama-lama memenuhi obrolan kita di media sosial—tapi ada pula yang langsung melejit lalu menghilang.

Beberapa tahun lalu ada si Udin Sedunia dan Norman Kamaru yang berjoget India. Awal tahun ini muncul Jessica (yang masih panjang umur hingga hari ini—mungkin karena dipaksakan bermanfaat untuk mengalihkan isu-isu tertentu). Beberapa pekan lalu ada si Mukidi. Anies Baswedan pun sempat menjadi tokoh beginian, bahkan dua kali: saat Jokowi mencopotnya dari posisi Menteri Pendidikan, kemudian lagi saat ia menjadi bagian dari pasangan kandidat pemimpin Jakarta yang didorong oleh Prabowo. Dan hari ini yang masih on fire adalah Dimas Kanjeng.

Setiap nama beserta kasus—dan perhatian publik kepadanya—bukan hanya komoditas untuk menarik iklan, tetapi juga sangat tersedia untuk dijadikan pengalih perhatian. Karena sejengkel-jengkelnya publik kita, mereka tetap saja menyalakan TV, memberi komentar terhadap link yang dibagikan di media sosial (walau tanpa meng-klik link tersebut—apalagi membaca isinya).

Singkatnya, media selalu bisa memaksakan tayangan berita tak penting, merebut kue iklan, agar para karyawannya tetap terjamin penghasilannya. Di sisi lain, para pemilik media tetap menuai pundi-pundi sambil mengendalikan agenda publik—untuk kepentingan politiknya, tentu saja.

Ah .. ini pasti tulisan keluh-kesah saja. Tidak direncanakan, tapi nekat posting karena sudah lama tidak menulis apa-apa di sini. Maaf …

 

20
Sep
16

Beli Foto

Seorang teman yang bekerja di bagian humas pemerintah daerah—yang salah satu tugasnya adalah memberi konten kepada [wartawan] media lokal guna kepentingan publikasi pembangunan maupun pencitraan pimpinan maupun daerah—pernah bercerita sesuatu yang unik. Atau tepatnya, “unik”.

Suatu hari, bupatinya diundang untuk menerima penghargaan di istana negara. Ya, penghargaan itu diserahkan secara langsung oleh presiden kepada kepala daerah. Seperti biasa, teman-teman di humas adalah para personil yang “dibawa” oleh bupati untuk mengumpulkan materi untuk bisa jadi berita di surat kabar lokal keesokan harinya. Materi itu bisa berupa cerita maupun foto. Baiklah, sekali ini kita menceritakan yang terkait dengan foto saja.

Bila acara pemberian penghargaan itu di kantor kementerian (misalnya, diserahkan oleh menteri), biasanya fotografer dari daerah (yang dibawa oleh bupati) agak susah mendapat kesempatan untuk bisa melakukan tugasnya. However, seringnya mereka tetap dapat melakukannya. Mereka tetap dapat membidikkan kameranya kepada menteri dan bupati yang sedang serah-terima piagam penghargaan—atau aktivitas-aktivitas seremonial semacam itu. Bisa membidik dan mengambil gambar itu entah karena memang diijinkan, diijinkan setelah lobi sana-sini, atau karena menyelinap.

Tetapi berbeda halnya bila acara semacam itu dilakukan di istana negara—atau penyerahannya oleh presiden, di luar istana negara sekalipun. Pengawalan memang lebih ketat di sekitar presiden, tentu saja, dibanding di sekitar menteri. Untuk acara di istana negara, kata teman yang fotografer bupati itu, biasanya yang diijinkan untuk mengambil foto sangat dibatasi. Hanya fotografer istana saja yang diijinkan. Fotografer bawaan bupati tak pernah dapat ijin untuk melakukan itu. Entah apa gunanya membayari mereka pergi ke Jakarta jika kemudian mereka tidak diijinkan untuk mengambil foto.

Lalu, dari mana foto bupati-sedang-menerima-piagam-penghargaan-dari-presiden yang dimuat di koran-koran dengan kalimat ucapan selamat itu?

Fotografer bupati tidak membuat sendiri foto itu dengan kameranya. Melainkan, mereka mendapatkannya dari hasil meminta kepada fotografer istana. Tinggal bawa flashdisk dan minta copy file foto itu? Enggak. Fotografer daerah harus menebusnya dengan uang.

Atau, pernah pula mereka diminta surat resmi berisi permintaan foto tersebut. Surat resmi, pakai kop pemerintah daerah, lengkap dengan tanda tangan pejabat dan stempel instansinya. Kutanyai pula, “Kalau sudah pakai surat sudah nggak usah duit lagi?” Ya tetap saja, katanya.

Aku tertawa mendengarnya. Hanya saja bertanya-tanya, “Presiden mereka tahu tidak perkara kecil semacam itu?”

Apakah para fotografer istana itu para pekerja mandiri semacam konsultan, dokter, tukang cendol atau tukang ojek begitu? Yang melakukan tugasnya lalu menerima sendiri upahnya dari klien? Apakah fotografer istana itu mengambil foto karena kehendaknya sendiri atau karena tugas yang diberikan oleh istana? Apakah mereka digaji oleh istana atau tidak?

Kalau mereka digaji oleh istana, artinya foto-foto dari acara seremonial yang mereka hasilkan itu bukan milik individu-individu fotografer itu, kan? Foto-foto itu miliki instansi yang mempekerjakan mereka, kan? Dan, instansi mereka itu lembaga publik. Jadi, kenapa mereka menjual foto-foto itu dan duit hasil penjualannya masuk ke kantong mereka? Fotografer daerah (bawaan bupati) itu tak pernah mendapatkan bukti resmi pembayaran atau kuitansi apapun atas uang yang mereka bayarkan untuk mendapatkan foto itu.

Aku hanya tersenyum pahit mendengar cerita semacam ini. Hanya saja bertanya-tanya, “Presiden mereka tahu tidak perkara kecil semacam itu?”

Tapi level presiden memang tidak selayaknya mengurusi hal-hal sekecil, seremeh, sepraktis dan sepragmatis itu. Mungkin begitu, ya?

14
Jun
16

Indahnya Ramadhan … dengan Polutannya

Ramadhan di negeri indah ini masih seperti beberapa Ramadhan sebelumnya. Tepatnya, Ramadhan di era virtual social media, era ketika ponsel layar sentuh sudah ada di tangan hampir setiap orang. Kondisi sama yang menyebalkan. Menyebalkan, karena menjadi polutan bagi indahnya tradisi Ramadhan di negeri indah ini.

Ada yang mencari benar-salah dalam kebudayaan yang berbeda. Ini polutan Ramadhan. Misalnya, tentang imsak dan halal bi halal yang nggak ada di negara sana. Lebih-lebih kalau di Arab juga nggak ada. Mereka umumnya nggak bisa bedakan mana Islam mana Arab mana Nusantara. Aku nggak terlalu pandai tentang agama maupun kebudayaan. Aku bukan ustadz, bukan budayawan, bukan orang yang pantas diminta jadi narasumber. Jadi jangan terlalu percaya kalau saya bilang bahwa yang Islam itu puasa di bulan Ramadhan dan sholat idul fitri. Kalau tentang imsak, halal bi halal dan saling memaafkan itu Nusantara. Tentang mudik, itu Indonesia, khususnya Jawa dan Melayu dulu, lalu menular ke etnis-etnis lain di Indonesia.

Polusi khas di era ponsel layar sentuh ini adalah perdebatan tanpa hasil. Untuk edisi khusus bulan Ramadhan, perdebatannya lebih tematis, tetapi hasilnya sama: tanpa hasil—dan tahu-tahu nanti hilang terlupakan oleh hiruk-pikuk lebaran. Yang tentang 11 atau 23 rakaat sudah reda, muncul yang baru: tentang boleh tidaknya warung makanan buka di siang hari. Ini nggak terlalu baru sebenarnya. Perda semacam itu sudah ada di daerah-daerah sekitar 10 tahun belakangan.

Awalnya saya sempat terpancing untuk ikut beropini. Tetapi seiring makin ramainya perdebatan itu, saya bukannya semakin bersemangat. Saya memilih untuk mengikuti tanpa berpartisipasi. Karena, ternyata lebih asyik untuk mengikuti dan tertawa menikmatinya daripada ikut beropini.

Semakin lucu, karena ada juga yang menggunakan argumen ala anak kecil. Itu argumen semacam ini: tuh ada yang gitu, kenapa saya nggak boleh? Atau: kalau kamu bisa, saya juga bisa.

Belum lagi “polutan abadi ramadhan” khas negeri ini: melonjaknya konsumtivisme. Sialnya, hukum ekonomi klasik masih saja awet masa berlakunya, sehingga lonjakan konsumtivisme itu langsung menghasilkan lonjakan lain, yaitu pada harga-harga barang-barang. Celakanya, barang-barang yang melonjak harganya itu bukan hanya barang keinginan, tetapi juga barang kebutuhan. Bahkan, kebutuhan pokok (primer) juga.

Ya, sudahlah. Sampai sini saja. Toh kubahas panjang-panjang juga tidak membuat bangsa ini mau bersepakat untuk sama-sama menahan diri tidak berbelanja melebihi hari-hari non-Ramadhan.

Selamat menikmati Ramadhan, saudaraku sebangsa se-tanah air! Kita punya rekor besar: bangsa kita terbukti tak pernah gagal membuat Ramadhan menjadi sangat khusus—tentang harga barang-barang di pasar.




menulis itu harus.
mengupil itu pilihan.

hmmm....

tentang …….

saldo

August 2017
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

senangnyaaa, blog ini pernah dikunjungi

  • 8,227 kali ^_^

yg punya wordpress akan senang ngasih tau via email jika Anda ngasih alamat email di sini, trus klik tombol jelek di bawah itu ^_^

blog-blog berikut juga seruuu …


BILIK SUNYI RANDU ALAMSYAH

After years of waiting, nothing came...

ANTI-TANK

ART IS POWER!

Ninok Eyiz's Journey

Just think and want to share..menulis itu memang untuk kesehatan jiwa..[ku]

Islam di Atas Mazhab

Mengenal Lalu Bersatu

pelukissenja

Just another WordPress.com site

PADAMARGA!

in sanskrit padamarga means the little path...

Edo Rusyanto's Traffic

Edo Rusyanto's Traffic

hari-hari tiap hari

corat-coret seorang PNS yang sedang membiasakan diri menulis [sambil mengupil] ^_^

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.