Posts Tagged ‘agama

27
Feb
17

Ahok Menistakan Agama (…)

Ini tentang kasus Ahok. Mungkin ini sudah lewat puncaknya. Tetapi saya sudah telanjur memiliki gagasan, dan baru hari ini sempat menuliskannya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Mungkin tidak selalu begitu. Mungkin sebagian orang akan berpendapat lebih baik tidak usah sama sekali untuk topik yang ingin saya ungkapkan. Tetapi saya memilih untuk tetap mengungkapkannya.

Saya muslim. Saya salut pada kekompakan umat muslim pada aksi 212. Saya salut pada penggeraknya: pemimpin FPI. Saya juga salut pada konsistensi FPI dalam nahi munkar. Pada pemilihan presiden lalu, saya memilih Prabowo.

Baiklah, ini mengenai tuduhan tindakan menista agama, yang ditujukan kepada Ahok. Tindakan yang dimaksudkan sebagai penistaan agama itu adalah ucapan Ahok (yang sempat direkam dalam media video, dan sempat pula di-posting di media sosial).

Saya tidak akan membahas bahwa pengemasan pesan itu bukan hanya dengan editing, tetapi juga dalam merekam—bahkan dalam memilih  medianya. Tidak, saya sedang tidak ingin membahas yang berat-berat begitu—untuk kasus ini.

Saya hanya berpendapat begini: adalah berlebihan (alias lebay) menuduh ucapan Ahok itu sebagai penistaan terhadap agama Islam.

Mungkin saya salah kutip, atau salah sadur. Seingat saya, Ahok (dalam video itu) mengatakan kepada khalayak untuk jangan mau dibohongi dengan surat al-Maidah ayat 51. Ya, itu salah satu ayat dalam kitab suci Islam, Al-Qur’an.

Saya juga pernah mendengar di televisi, salah satu saksi ahli dalam persidangan kasus itu menerjemahkan kalimat “Jangan mau dibohongi dengan al-Maidah ayat 51” itu menjadi “berarti Al-Qur’an itu alat untuk berbohong”. Di situlah poin penistaan agama disangkakan. Dan di situlah—bagi saya—makin terasa lebay-nya.

Meyakini Al-Qur’an dan setiap ayat di dalamnya sebagai kebenaran adalah wajib bagi setiap muslim. Saya juga meyakini itu. Bahwa Al-Qur’an itu adalah benar dalam setiap ayatnya, dalam setiap hurufnya, setiap suratnya, maupun dalam keseluruhannya. Saya juga yakin—dan pasti banyak yang bisa membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak mengalami editing seperti kitab-kitab atau buku lain apapun di dunia ini.

Inilah yang terpikir dalam benak saya sejak Ahok dituduh orang menggunakan ayat Al-Qur’an untuk membohongi orang, dan Ahok mungkin memiliki ide yang sama dengan saya: bahwa pisau itu gunanya untuk mengupas mangga, tetapi di tangan orang yang tak tepat pisau juga bisa jadi alat untuk membunuh sesama. Apakah ada yang memprotes perusahaan/produsen pisau?

Itu seperti internet yang bisa digunakan untuk mempromosikan barang dagangan, tetapi juga bisa dijadikan sebagai media untuk transaksi prostitusi—atau sekadar menikmati konten porno.

“2+2=4”

“Pencetus teori evolusi itu Darwin.”

“Es mulai membeku pada suhu nol derajat Celcius.”

Itu benar. Ketiganya benar. Tetapi, tidakkah kita bisa menggunakannya secara curang untuk mendapatkan sesuatu yang kita mau? Tidakkah seorang siswa sekolah juga bisa mengatakan kebenaran (yang kebetulan menjadi jawaban dari sebuah soal ulangan) kepada temannya dengan imbalan traktiran di kantin?

Al-Qur’an, internet, pisau, mobil, pistol, jengkol, kokain, frekuensi radio, informasi, api … sebutkan benda apa saja! Dan semua bisa disalahgunakan tanpa mengurangi “kemuliaan” benda tersebut.

Sudah.

30
Nov
16

Ternyata Sehebat Itu?

Dalam seminggu ini ada tiga apel besar digelar di sekitar kantor saya. Apel yang menghadirkan berbagai unsur, mulai dari militer, kepolisian, organisasi kemasyarakatan, forum kerukunan umat beragama, pemuda, pelajar dan entah apa lagi.

Ketiga apel itu dipandegani oleh pihak yang itu-itu juga: kepolisian dan militer. Setahu saya, ada juga yang “membajak” nama forum koordinasi pimpinan daerah untuk menggelar salah satu apel tersebut, tetapi tetap saja inisiatifnya dari pihak bersenjata.

Ketiga apel itu memiliki tema yang mirip-mirip, yaitu tidak jauh-jauh dari persatuan dan kesatuan, NKRI, bhinneka tunggal ika, dan entah frase-frase senada itu apa lagi yang dipakai.

Apel-apel itu bukan kegiatan rutin. Karena yang rutin di hari-hari terdekat adalah peringatan Hari Pahlawan (10 November), peringatan Hari Guru (25 November), hari KORPRI (29 November) dan Bulan Menanam Nasional (Desember). Dari 4 momen ini, yang paling terasa dekatnya dengan tema-tema apel itu adalah yang pertama. Tapi terasa jauh juga karena apel-apel itu terkesan diadakan secara mendadak—setidaknya seminggu—setelah peringatan Hari Pahlawan.

Sempat terdengar olehku selentingan tentang latar belakang munculnya inisiatif untuk apel-apel itu. Tidak lain adalah rencana aksi 2 Desember (212) di Jakarta—yang merupakan sekuel kedua dari aksi 4 November (411) lalu.

Aksi 411 terbukti mampu mengumpulkan ratusan ribu massa. Dan perkiraan semula dari banyak pihak mengenai aksi 212 ternyata meleset: banyak yang semula mengira aksi 212 tidak akan sehebat aksi 411—dalam hal jumlah peserta (massa).

Salah satu faktor yang membuat perkiraan itu jungkir-balik adalah fenomena Ciamis. Yup, sejumlah relatif besar orang yang berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta untuk berpartisipasi dalam aksi 212. Yang semula diberitakan oleh media besar bahwa jumlahnya hanya puluhan orang, lalu segera terkonfirmasi oleh informasi yang gencar dan pesat beredar di media-media sosial di dunia maya.

Belum lagi, dalam banyak informasi yang beredar di media sosial, para pejalan kaki dari Ciamis itu banyak mendapat dukungan di sepanjang jalan. Salah satu bukti visualnya adalah makanan dan minuman yang disediakan oleh para warga di sepanjang rute mereka. Tidak susah melihat dan meyakini apakah penyediaan makanan dan minuman oleh warga itu sebagai bentuk dukungan atau bentuk “suap agar mereka tidak berbuat anarkis”.

Pihak berwenang semula memang tidak mengijinkan penggunaan angkutan umum untuk membawa para calon peserta aksi 212 menuju Jakarta. Belakangan mereka melunak. Mereka mengijinkan hal tersebut. Mungkin mereka akan terlihat lucu jika tetap tidak mengijinkan lalu media sosial dipenuhi gambar, video dan cerita tentang perjalanan pulang orang-orang dari Jakarta ke Ciamis.

Nah, kembali ke apel-apel tadi. Kalau memang itu ditujukan untuk menjaga situasi agar rencana aksi 212 tidak menimbulkan banyak masalah (entah masalah persatuan, kesatuan ataupun dukungan terhadap pemerintah), maka saya hanya semakin terpancing untuk mengambil kesimpulan begini: betapa hebatnya pencetus aksi 411 dan aksi 212 itu. Siapa dia? Habib Rizieq? Pemimpin FPI yang banyak dihujat itu? Jadi sebegitu hebatkan dia sehingga pihak berwenang merasa perlu menggalang dukungan di seluruh daerah?

Entahlah. Saya mau cuci baju dulu.

07
Jun
16

Selalu Ada Alasan

Biasanya, bulan Ramadhan membawa banyak keunikan di negeri kita. Mulai dari suasana sehari-hari di kampung-kampung, di jalan-jalan, sampai di layar televisi, semua berubah. Itu menunjukkan betapa istimewanya bulan Ramadhan di negeri ini.

Salah satunya, komoditas kurma yang tiba-tiba membanjir. Bukan hanya jumlah penawaran (supply) yang menanjak, tapi memang permintaan pasar (demand) juga. Minat masyarakat muslim untuk makan kurma tiba-tiba melonjak menjelang dan selama Ramadhan. Salah satu penyebabnya adalah hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa berbuka dengan kurma—atau segelas air, bila sedang tak ada kurma.

Banyak di antara umat muslim di negeri kita memang masih membaca kitab suci, hadis dan kitab-kitab lain dan melaksanakan perintah-perintah atau menjauhi larangan-larangan seperti yang tertulis di sana. Hadis menyebutkan Rasulullah biasa berbuka dengan kurma, lalu kita beranggapan berbuka dengan kurma itu sunah dan lebih berpahala dibanding berbuka dengan makanan lain. Ada ajaran untuk berhari raya setelah melihat hilal walaupun puasanya baru 29 hari, lalu kita merasa harus ada sebagian dari kita (seperti kifayah) yang melihat secara langsung—dengan berbagai peralatan optik—rupa hilal. Karena hadis menyebutkan Rasulullah membiarkan jenggotnya panjang, lalu sebagian masyarakat kita membiarkan juga jenggot mereka memanjang dengan alasan mengikuti sunah rasul. (Agak anehnya, walaupun gaya rambut Rasulullah jika diterapkan pada jaman sekarang bisa menutup kerah baju, tapi jarang kita temui muslim taat yang meniru itu dengan alasan seperti pada kasus jenggot)

Saya bukanlah muslim yang baik. Saya sering mempertanyakan teguran yang menggunakan alasan berbau agama yang ditujukan kepada saya oleh teman-teman sesama muslim. Misalnya, ketika saya ditegur perihal ujung sarung atau celana saya yang menutupi mata kaki. Atau, ketika saya meragukan pahala dari sunah memelihara jenggot—karena jenggot orang Arab lebih subur dibanding jenggot orang Melayu; dan itu sama sekali bukan kesalahan orang Melayu, melainkan karena faktor genetik atau DNA. Atau ketika saya diprotes oleh teman serombongan ketika saya bersedia ikut menghadiri pengajian dengan berbaju kaos plus jaket parasit dan celana gunung—padahal beberapa menit sebelumnya tidak seorangpun yang memprotes saya pakai kostum itu untuk sholat magrib berjamaah di masjid.

Biasanya, saya menampik teguran-teguran itu dengan logika saja. Bukan karena logika saya bagus, tetapi karena hanya itu yang saya bisa. Saya tidak pernah secara serius mempelajari Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab dan sebagainya. Bahkan, mendengar ceramah atau membaca artikel keagamaan pun saya tidak rajin. (Begitupun, saya masih merasa beruntung karena ketika menjumpai link di media sosial saya masih tergerak untuk membaca artikelnya terlebih dulu baru berkomentar. Saya masih beruntung karena saya merasa bersalah jika menafsirkan judul saja lalu berkomentar, tanpa membaca bodycopy artikelnya.)

Dan saya bersyukur, dini hari tadi saya mendapat dukungan yang luar biasa atas segala kebiasaan buruk saya itu. Dukungan untuk lebih kritis lagi mempertanyakan teguran-teguran itu. Kerennya, dukungan itu saya dapat dari orang yang kredibel, yaitu Pak Quraish Shihab. Iya, ulama yang kyai haji itu. Bukannya saya bertemu dan mengobrol dengan beliau, tetapi saya mendengarkan acara yang beliau jadi narasumbernya di televisi pada jam sahur dini hari tadi.

Sambil makan sahur, saya mendengarkan suara di televisi. Suara beliau yang mengatakan kurang lebih begini: segala perintah Allah, perintah Rasul, selain yang ibadah langsung, itu harus kita lihat dan pahami dulu konteksnya. (Ibadah langsung itu seperti sholat, puasa dan haji. Jadi, jangan pertanyakan mengapa sholat magrib itu tiga rakaat, mengapa harus membaca al-Fatihah, mengapa puasa itu sampai magrib, atau mengapa haji harus dikerjakan di Makkah. Yang jenis-jenis itu sudahlah, laksanakan saja!)

Kita jangan melanjutkan tradisi jika tradisi itu tidak baik. Kita boleh melanjutkan tradisi, jika tradisi itu baik. Pun, yang dulunya baik sekarang belum tentu tetap baik. Kita tidak boleh melanjurkan hal baik jika saat ini sudah ada yang lebih baik. Misalnya, orang jaman dulu mengumandangkan adzan dari atas menara masjid, itu baik karena menambah daya jangkau kumandangnya. Tapi sekarang sudah ada loud speaker yang fungsinya sama (menambah daya jangkau kumandang adzan), sehingga sekarang ini muadzin tidak perlu memanjat menara kalau mau mengumandangkan adzan.

Jadi, jika Rasulullah membiarkan jenggotnya panjang, itu karena ada konteksnya. Mungkin sosial atau politik. Atau karena barbershop belum sebanyak sekarang.

Jika Rasulullah biasa makan kurma untuk mengakhiri puasanya, itu karena ada konteksnya. Mungkin perkara ekonomi. Mungkin karena saat itu ekspor mangga atau matoa dari kita belum sampai sana.

Jika Rasulullah melarang umatnya memakai jubah yang panjangnya melebihi/menutupi mata kaki, itu karena ada konteksnya. Mungkin ada trend fashion tertentu di suatu tempat di masa itu.

Jika busana Rasulullah sehari-hari berupa gamis atau jubah panjang berwarna polos, itu karena ada konteksnya. Mungkin karena beliau tidak mengenal batik, peci hitam ala Soekarno atau blangkon.

Jika Rasulullah biasa melihat hilal menjelang Ramadhan atau di akhir Ramadhan, itu juga ada alasannya. Mungkin karena di Arab saat itu tidak sering ada mendung—apalagi kabut asap—di kala senja.

Ah, saya ini menulis apa sih? Mending bersihkan upil di hidung … ^_^

20
May
12

Yang Tidak Berani Diadu, Pantas Diragukan Sebagai Yang Terbaik

Mungkin ini sudah membosankan karena akhir-akhir ini media massa kita sudah setiap hari mengulasnya. Ini tentang konser Lady Gaga yang tidak diijinkan oleh pihak kepolisian negeri ini.

Pertama, saya ingin melihat televisi. Stasiun televisi [yang lebih memfokuskan diri pada] berita banyak membahas topik ini setiap hari. Mungkin hanya berita terkait jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 di Gunung Salak yang mampu mengungguli intensitasnya.

Banyak talk show (baik program maupun session dalam program berita) yang membahas tentang setuju/tidaknya dengan pelarangan konser itu. Orang yang dimintai opininya juga banyak. Aku sempat melihat Radhar Panca Dahana (budayawan?), Akhmad Dhani (musisi), Ruhut Sitompul (praktisi hukum), imam besar masjid Istiqlal, anggota fraksi PKS, orang FPI, cewek [yang mengaku] nge-fans Lady Gaga, dan entah siapa lagi.

Engga asiknya, televisi menyiarkan ketidak-setujuan dengan porsi yang lebih besar dibanding kesetujuannya. (Well, mungkin idenya begini: kalau orang pada setuju dan semua baik-baik saja, ngapain juga dibikin rame di tipi?)

Alasannya seru-seru. Misalnya, Continue reading ‘Yang Tidak Berani Diadu, Pantas Diragukan Sebagai Yang Terbaik’




menulis itu harus.
mengupil itu pilihan.

hmmm....

tentang …….

saldo

August 2017
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

senangnyaaa, blog ini pernah dikunjungi

  • 8,227 kali ^_^

yg punya wordpress akan senang ngasih tau via email jika Anda ngasih alamat email di sini, trus klik tombol jelek di bawah itu ^_^

blog-blog berikut juga seruuu …


BILIK SUNYI RANDU ALAMSYAH

After years of waiting, nothing came...

ANTI-TANK

ART IS POWER!

Ninok Eyiz's Journey

Just think and want to share..menulis itu memang untuk kesehatan jiwa..[ku]

Islam di Atas Mazhab

Mengenal Lalu Bersatu

pelukissenja

Just another WordPress.com site

PADAMARGA!

in sanskrit padamarga means the little path...

Edo Rusyanto's Traffic

Edo Rusyanto's Traffic

hari-hari tiap hari

corat-coret seorang PNS yang sedang membiasakan diri menulis [sambil mengupil] ^_^

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.